Oleh: Manche Kota
Ada satu kalimat yang pernah diucapkan oleh Rocky Gerung dan kini terasa seperti cermin yang diarahkan kembali kepadanya,
“Tidak ada kemuliaan pada mereka yang munafik, berapi-api teriak perubahan tapi kemudian menjual diri ketika ditawari kekuasaan.”
Menjadi substansi relevan untuk menguji perjalanan kritik Rocky hari ini. Selama bertahun-tahun Rocky membangun reputasinya sebagai intelektual yang berdiri di luar kekuasaan: keras mengkritik pemerintah, mempertanyakan kebijakan, dan menjadikan “akal sehat” sebagai pisau untuk membedah kekuasaan.
Sekarang posisinya berubah. Rocky masuk ke dalam Wantimpres. Dan di sinilah kritik yang selama ini ia tujukan kepada orang lain berbalik menjadi pertanyaan untuk dirinya sendiri: ketika seorang pengkritik kekuasaan menerima tempat di dalam kekuasaan, apakah itu kesempatan memperbaiki kekuasaan dari dalam, atau awal kompromi terhadap kritik yang selama ini diteriakkan dari luar?
Memang belum adil mengatakan Rocky telah “menjual diri”. Jabatan publik tidak otomatis menghapus integritas seseorang. Namun justru karena standar yang selama ini dibangun Rocky begitu tinggi terhadap orang-orang yang mendekati kekuasaan, publik berhak menggunakan standar yang sama terhadap dirinya. Konsistensi intelektual tidak diuji ketika seseorang jauh dari kekuasaan; konsistensi justru diuji ketika kekuasaan membuka pintu dan menyediakan kursi.
Di sinilah langkah catur permainan kekuasaan Prabowo menarik dibaca. Prabowo tidak harus berdebat setiap hari dengan Rocky. Ia memilih memasukkan sang kritikus ke ruang pemberi pertimbangan. Rocky yang dahulu bebas menunjuk kesalahan pemerintah dari luar sekarang menghadapi konsekuensi baru: kalau menemukan kebijakan yang keliru, ia mempunyai akses untuk menyampaikannya kepada Presiden. Setelah itu publik dapat bertanya, apa yang Rocky katakan kepada Presiden, apa yang ia perjuangkan, dan apakah keberanian kritiknya masih sama?
Prabowo mengunci Rocky, bukan membungkam mulutnya, tetapi mengunci kritiknya dengan tanggung jawab. Rocky tidak lagi cukup mengatakan MBG salah sasaran, koperasi desa bermasalah, birokrasi terlalu gemuk, atau terlalu banyak badan dan lembaga yang membebani pajak rakyat. Sebagai anggota Wantimpres, publik dapat menuntut satu tahap lebih jauh: apa solusi yang ia tawarkan kepada Presiden?
Bahkan komposisi Wantimpres yang mencapai 26 orang layak menjadi objek kritik Rocky sendiri. Jika selama ini ia mempertanyakan obesitas birokrasi dan efisiensi negara, maka konsistensi tersebut seharusnya juga berlaku terhadap lembaga tempat ia kini berada. Akal sehat kehilangan makna apabila hanya tajam ketika menghadap keluar, tetapi tumpul ketika diarahkan ke kursi sendiri.
Karena itu, publik bisa berikan waktu tiga bulan untuk melihat apakah Rocky benar-benar membawa tradisi kritiknya ke dalam Istana. Apakah ia berani berbeda pendapat dengan Presiden? Apakah kritiknya terhadap MBG, Kopdes, Sekolah Rakyat, pemborosan anggaran, serta gemuknya lembaga negara tetap terdengar? Atau semuanya perlahan berubah menjadi pembenaran terhadap kebijakan?
Pada akhirnya, mungkin inilah kelihaian politik Prabowo: kritikus paling keras tidak selalu perlu dijadikan musuh. Berikan kepadanya kursi, akses, dan tanggung jawab; setelah itu biarkan publik menguji apakah kritiknya memang prinsip atau sekadar posisi.
Prabowo membuka pintu Istana. Rocky memilih masuk. Sejak saat itu, yang sedang diuji bukan lagi kepandaian Rocky mengkritik kekuasaan melainkan konsistensinya ketika ia menjadi bagian dari lingkar kekuasaan.


























