Menu

Mode Gelap
Transformasi Posyandu, Kader PKK Batam Harus Beradaptasi dengan Perubahan Firmansyah: Pelayanan Publik Berkualitas Jadi Kunci Kenaikan PAD Batam Tuduhan Penistaan dan Isu Ijazah Disebut tak Berdasar, Ada Indikasi Pembungkaman Tokoh Bangsa Hungaria Berubah Arah: PM Baru Siap Tangkap Netanyahu Launching Bantuan Pangan Nasional di Meral Barat, Wabup Karimun Minta Penyaluran Secara Tranparan dan Adil Tim KKP Usulkan Lokasi KNMP Air Bini Lebih Dekat ke Laut

Berada

Prabowo Subianto Umumkan Pemotongan Anggaran untuk Efisiensi Fiskal

badge-check


					Prabowo Subianto Umumkan Pemotongan Anggaran untuk Efisiensi Fiskal Perbesar

AskaraNews.Com, Jakarta-Presiden Prabowo Subianto mengumumkan langkah pemotongan anggaran di berbagai kementerian dan lembaga untuk meningkatkan efisiensi fiskal dan menutup celah penyalahgunaan dana negara. Langkah ini diumumkan dalam pernyataan video yang dirilis oleh Sekretariat Presiden di Jakarta pada Kamis.

 

Dalam inisiatif awal untuk meningkatkan efisiensi, Prabowo menyebutkan bahwa pemerintah berhasil menghemat Rp. 308 triliun dari anggaran pemerintah pusat.

 

“Penghematan ini berasal dari pengeluaran yang tidak masuk akal. Jika tidak dipotong, dana tersebut berpotensi besar mengarah pada korupsi,” ujar Prabowo.

 

Penghematan Rp. 308 triliun tersebut berasal dari tinjauan awal terhadap pengeluaran pemerintah pusat, yang bertujuan mengidentifikasi alokasi yang tidak efisien dan tidak diperlukan. Prabowo memperingatkan bahwa jika dana tersebut tidak dikendalikan, maka akan membebani keuangan negara tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

 

Prabowo juga menyoroti Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang tinggi, saat ini di angka 6,5, jauh di atas negara-negara tetangga. Menurutnya, ICOR yang tinggi ini mencerminkan ketidakefisienan sekitar 30 persen, setara dengan sekitar US$75 miliar dari anggaran negara yang mendekati Rp. 3.700 triliun.

 

Pemotongan Anggaran dan Efisiensi

Pemotongan anggaran menargetkan pengeluaran seperti acara seremonial, perlengkapan kantor, serta pertemuan dan seminar di luar kantor, yang menurut Prabowo sering kali gagal mengatasi isu inti seperti pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah juga meninjau praktik pengadaan rutin, termasuk pembelian komputer dan peralatan kantor yang sering dilakukan setiap tahun.

 

Prabowo menekankan bahwa penghematan substansial masih mungkin dilakukan dengan memperketat pengawasan terhadap pengeluaran non-esensial di seluruh lembaga pemerintah. Sebagai langkah tambahan untuk mengurangi biaya operasional, pemerintah mempertimbangkan pengaturan kerja baru, termasuk minggu kerja yang lebih pendek dan adopsi kerja jarak jauh yang lebih luas.

 

“Saya melihat negara lain mengurangi minggu kerja dari lima hari menjadi empat, seperti Filipina dan Pakistan. Kemudian ada kerja dari rumah. Selama COVID, kita berhasil melaksanakannya dengan baik. Saya pikir kita bisa melakukannya lagi. Mungkin 75 persen pegawai bisa bekerja dari rumah,” kata Prabowo.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tuduhan Penistaan dan Isu Ijazah Disebut tak Berdasar, Ada Indikasi Pembungkaman Tokoh Bangsa

22 April 2026 - 05:18 WIB

Amirul Khalish Manik, Semua Pihak Agar Objektif Melihat Pernyataan Mantan Wapres JK Secara Bijak

19 April 2026 - 09:38 WIB

Tokoh Pemuda Muslim Dukung Langkah Hukum JK, Siap Konsolidasi Nasional

19 April 2026 - 09:02 WIB

Menjaga Kejernihan di Tengah Gorengan Isu Jusuf Kalla

17 April 2026 - 06:02 WIB

Inovasi Polri Buka Akses Cepat Laporan Polisi Tanpa Harus ke Kantor

16 April 2026 - 19:44 WIB

Trending di Nasional