Askaranews.com. Jakarta-Kamar Dagang Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi (KAPMI PT) Pusat melakukan audiensi dengan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Iqbal Shoffan Shofwan, untuk membahas peluang sinergi dalam penguatan kewirausahaan mahasiswa, khususnya melalui program Kampus Preneur yang merupakan bagian dari program Kementerian Perdagangan.
Audiensi tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum KAPMI PT Pusat, Wahyu Mukhtar Asafurla, bersama 12 orang delegasi KAPMI PT Pusat.
Wahyu menjelaskan bahwa KAPMI PT merupakan organisasi baru yang dibentuk sebagai badan otonom dari Kamar Dagang Pengusaha Muda Indonesia (KAPMI) yang dipimpin oleh Abangda Muliansyah. KAPMI PT memiliki segmentasi khusus di lingkungan perguruan tinggi dengan fokus mendorong mahasiswa untuk memiliki keberanian, pengetahuan, jaringan, dan pengalaman dalam dunia kewirausahaan.
“KAPMI PT hadir untuk mengambil ruang yang lebih spesifik di lingkungan perguruan tinggi. Kami ingin mahasiswa tidak hanya berbicara tentang dunia kerja setelah lulus, tetapi sejak di bangku kuliah sudah mulai mengenal dunia usaha, melihat peluang, membangun jaringan, dan kalau memungkinkan mulai menjalankan usaha,” ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, dalam audiensi tersebut KAPMI PT melihat adanya peluang untuk membangun sinergi dengan Kementerian Perdagangan melalui Kampus Preneur, yang merupakan program dari Kementerian Perdagangan.
“Kami melihat Kampus Preneur sebagai sebuah program yang memiliki ruang untuk disinergikan dengan gerakan kewirausahaan mahasiswa yang sedang kami bangun. Kami tidak datang untuk membuat program yang berjalan sendiri, tetapi ingin melihat bagaimana KAPMI PT dapat menjadi bagian dari ekosistem yang sudah dibangun oleh Kementerian Perdagangan, khususnya dalam menjangkau dan mengembangkan potensi mahasiswa di perguruan tinggi,” jelasnya.
Wahyu menilai sinergi tersebut dapat diarahkan tidak hanya pada kegiatan seminar atau pelatihan kewirausahaan, tetapi juga pada proses yang lebih berkelanjutan. Mahasiswa perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar secara langsung mengenai pasar, produk, pemasaran, negosiasi, pengelolaan usaha, jejaring bisnis, hingga mempertemukan usaha mahasiswa dengan pasar yang lebih luas.
“Bagi kami, kewirausahaan bukan hanya soal seminar satu hari. Mahasiswa perlu mengalami prosesnya. Mereka harus belajar bagaimana melihat kebutuhan pasar, membuat produk, menjual, bernegosiasi, mengelola keuangan, menghadapi konsumen, membangun jaringan, sampai memahami risiko dalam menjalankan usaha,” kata Wahyu.
Ia juga menekankan pentingnya perubahan cara pandang mahasiswa terhadap masa depan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Kita ingin mengubah cara pandang mahasiswa. Setelah lulus, pilihan kita bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan pekerjaan. Tidak semua mahasiswa harus menjadi pengusaha, tetapi mahasiswa harus memiliki keberanian untuk melihat peluang dan memahami bagaimana sebuah usaha dapat dibangun,” tegasnya.
Dalam konteks sinergi dengan Kementerian Perdagangan, Wahyu mengatakan KAPMI PT melihat sejumlah ruang yang dapat dikembangkan bersama, mulai dari penguatan program Kampus Preneur di lingkungan perguruan tinggi, pendampingan usaha mahasiswa, pengembangan jejaring pelaku usaha muda, business matching, pengenalan mahasiswa terhadap perdagangan dalam negeri, hingga pembukaan akses terhadap jaringan pasar dan pelaku usaha.
“Kami melihat banyak sekali titik temu yang bisa dikembangkan. KAPMI PT memiliki jaringan mahasiswa dan semangat kewirausahaan di perguruan tinggi, sementara Kementerian Perdagangan memiliki pengalaman, program, serta ekosistem di bidang perdagangan. Kalau ruang ini dipertemukan, kami berharap mahasiswa tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi bisa masuk ke pengalaman dan aktivitas ekonomi yang nyata,” ungkap Wahyu.
Menurutnya, kampus memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu membaca perubahan ekonomi dan menciptakan nilai.
“Mahasiswa punya ide dan energi yang besar. Tantangannya adalah bagaimana energi itu diarahkan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif. Karena itu, kami ingin kampus tidak hanya menjadi tempat untuk mencari gelar, tetapi juga menjadi salah satu ruang lahirnya pengusaha-pengusaha muda yang mampu menciptakan lapangan kerja,” ujar Wahyu.
Wahyu menambahkan bahwa sebagai organisasi yang baru dibentuk, KAPMI PT ingin sejak awal membangun fondasi yang jelas. KAPMI PT akan mendorong penguatan kapasitas mahasiswa, membangun jejaring pengusaha muda, serta membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan dunia usaha.
“Karena KAPMI PT ini masih baru, kami ingin sejak awal membangun fondasi yang kuat. Kami ingin organisasi ini benar-benar memberikan manfaat bagi mahasiswa, bukan sekadar menjadi organisasi dengan nama besar. Ukurannya adalah sejauh mana mahasiswa mendapatkan akses, pengetahuan, jaringan, dan keberanian untuk berkembang secara ekonomi,” pungkas Wahyu.
Audiensi tersebut menjadi bagian dari langkah awal KAPMI PT Pusat dalam membangun komunikasi dan membuka ruang kolaborasi dengan Kementerian Perdagangan untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan mahasiswa dan memperluas keterlibatan generasi muda dalam aktivitas ekonomi nasional.
“Dari kampus kita mulai membangun mindset, Dari mindset kita dorong keberanian. Dari keberanian lahir usaha. Dari usaha lahir lapangan pekerjaan. Dan dari generasi muda yang berdaya, kita ikut membangun Indonesia yang mandiri secara ekonomi. Tutup Wahyu” (Red)























