Persiapan Penilaian Adipura 2026, Pemko Banda Aceh Gelar Rapat Koordinasi Sembilan Pemuda Terbaik Banda Aceh Resmi Dinobatkan Sebagai Pemuda Pelopor 2026 Wagub Nyanyang Harapkan IKAL Lemhannas Jadi Mitra Strategis Perkuat Ketahanan Kepri Wagub Nyanyang Ajak Akuntan Perkuat Kesiapan Hadapi Era Pelaporan Keberlanjutan Global Melampaui Status Emerging Market : Daya Tarik Investasi Menuju Kedaulatan Ekonomi MA Batalkan Suket Ijazah Gibran, Abah Elang Desak DPR Sikapi Posisi Wapres

Opini

KETEGASAN YANG TIDAK MEMBUAT LUKA

badge-check


 KETEGASAN YANG TIDAK MEMBUAT LUKA Perbesar

Oleh: Drs. H. Buralimar, M.Si.

Kepemimpinan bukan sekadar kemampuan memberi perintah. Ia adalah seni memengaruhi, menggerakkan, dan mengarahkan manusia menuju tujuan bersama—bukan hanya karena mereka harus berjalan, tetapi karena mereka percaya pada arah yang ditunjukkan.

Jabatan dapat membuat seseorang didengar. Kekuasaan dapat membuat orang patuh. Tetapi hanya kepercayaan yang membuat seseorang diikuti dengan kesadaran.

Karena itu, kepemimpinan membutuhkan kompetensi, integritas, dan kematangan emosi. Seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan, memegang prinsip, tetap tenang dalam tekanan, sekaligus memahami bahwa setiap orang yang dipimpinnya adalah manusia dengan karakter, pengalaman, dan cara pandang yang berbeda.

Di situlah pentingnya keseimbangan antara ketegasan dalam tindakan dan kelembutan dalam bahasa.

Tegas tidak berarti keras. Ketegasan adalah keberanian memegang prinsip, konsisten menjalankan aturan, dan mengambil keputusan secara adil. Tanpa ketegasan, aturan hanya menjadi tulisan. Namun ketegasan tanpa keadilan mudah berubah menjadi kesewenang-wenangan.

Sebaliknya, bahasa adalah wajah kemanusiaan seorang pemimpin. Ada keadaan yang membutuhkan suara lantang dan keputusan cepat. Tetapi ada pula saat ketika pemimpin perlu menurunkan suara, menahan ego, memilih kata dengan bijak, dan menghadirkan ketenangan. Tidak semua masalah membutuhkan suara keras.

Pemimpin yang matang tahu kapan harus tegas, kapan harus lembut, dan kepada siapa keduanya harus disampaikan.

Gagasan ini sejalan dengan Teori Kepemimpinan Situasional Paul Hersey dan Ken Blanchard: tidak ada satu gaya kepemimpinan yang cocok untuk semua keadaan. Mereka yang membutuhkan arahan memerlukan ketegasan; mereka yang telah matang membutuhkan kepercayaan dan ruang untuk berkembang.

Dengan kata lain, pemimpin harus tahu kapan berdiri di depan, kapan berjalan di samping, dan kapan memberi ruang agar orang lain berjalan sendiri.

Hal yang sama berlaku dalam komunikasi. Konsep field of experience Wilbur Schramm mengingatkan bahwa pesan akan lebih mudah diterima ketika pemimpin memahami pengalaman orang yang diajak berkomunikasi. Sementara prinsip 7C Cutlip dan Center menekankan pentingnya kredibilitas, konteks, kejelasan, konsistensi, serta ketepatan cara penyampaian.

Sebab pesan yang benar dapat kehilangan makna ketika disampaikan dengan cara yang salah.

Ketika kesalahan terjadi, tentu tindakan korektif tetap diperlukan. Aturan harus ditegakkan. Namun teguran tidak harus menjadi pertunjukan penghukuman. Jika kesalahan dapat dibicarakan secara proporsional dan manusiawi, maka tujuan kepemimpinan bukan sekadar menghukum, melainkan memperbaiki.

Di titik itulah seorang pemimpin tidak lagi sekadar menjadi bos, tetapi tumbuh menjadi mentor.

Kepemimpinan modern pada akhirnya membutuhkan kecerdasan emosional: kemampuan mendengar, memahami, mengendalikan ego, dan memberi ruang kepada orang lain untuk tumbuh. Semangat servant leadership bahkan menempatkan kebutuhan pengembangan anggota sebagai bagian penting dari kepemimpinan.

Nelson Mandela menunjukkan bahwa keteguhan prinsip dapat berjalan bersama kemampuan merangkul. Jacinda Ardern memperlihatkan bahwa ketegasan menghadapi krisis tidak harus menghilangkan empati.

Dari mereka kita belajar: kekuatan pemimpin bukan diukur dari seberapa keras suaranya, tetapi dari seberapa kuat prinsipnya dan seberapa luas manusia yang mampu dirangkulnya.

Ketegasan memberi arah.
Kelembutan memberi ruang.

Ketika keduanya bertemu dalam komunikasi yang tepat, kepemimpinan tidak berhenti pada kepatuhan. Ia tumbuh menjadi kepercayaan.

Dan kepercayaanlah yang membuat organisasi tetap berjalan, bahkan ketika suara pemimpinnya sudah tidak lagi terdengar.

Batam, 8-9-2026
Penulis adalah
1. Ketua BWI Kota Batam
2. Mantan Kadis Pariwisata Prov. Kepri

Baca Lainnya

Melampaui Status Emerging Market : Daya Tarik Investasi Menuju Kedaulatan Ekonomi

31 Oktober 2026 - 15:15 WIB

Kebekuan Jiwa Agama

30 Oktober 2026 - 02:54 WIB

Momentum Sumpah Pemuda: Jangan Hanya Jadi Angka, Jaga Konstitusi

28 Oktober 2026 - 12:41 WIB

Opini Akademik: “Jalan Hotel Vista Batam Terus Bergelombang: Jangan Hanya Memperbaiki Aspal, Selamatkan Fondasi Tanahnya!”

28 Oktober 2026 - 08:03 WIB

Sumpah Pemuda dari Mata Perempuan: Merawat Indonesia Melalui Keberanian dan Kepedulian

28 Oktober 2026 - 06:36 WIB

Trending di Opini