Menu

Mode Gelap
Jusuf Kalla Dukung Milad Ke-11 PRIMA DMI dan Peluncuran Halal Center untuk Percepat Wajib Halal 2026 Melayu Murka! Laskar Melayu Bersatu Kepri Kota Batam: “Hina Marwah Kami, Siap Kami Lawan!” ::: Kisah Pak Am di Tanah Suci: Romantisme, Kursi Roda, & Ruang Maaf pada Istri Tercinta Hadiri Sannipata Waisak 2570 BE, Wali Kota Lis Ajak Masyarakat Perkuat Kerukunan dan Perdamaian Dugaan Penggunaan Kapal Patroli Imigrasi untuk Kepentingan Pribadi Jadi Sorotan, Publik Minta Klarifikasi Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belakang Padang Umumkan Penyesuaian Jadwal Pelayanan dalam Rangka Hari Lahir Pancasila Tahun 2026

Batam

Mahasiswa Menghidupkan Ruang Diskusi Kritis Melalui Nobar Film Dokumenter Pesta Babi

badge-check


					Mahasiswa Menghidupkan Ruang Diskusi Kritis Melalui Nobar Film Dokumenter Pesta Babi Perbesar

Aslaranews.com. Batam-Pada malam hari ini, Senin 11 Mei 2026 pukul 21:00 – selesai, kegiatan nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi diselenggarakan di lingkungan kantin Universitas Riau Kepulauan sebagai ruang belajar bersama dan refleksi sosial bagi mahasiswa.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Reno Ramanda sebagai mahasiswa Fisipol Universitas Riau Kepulauan sekaligus wakil ketua Senat Fisipol bersama Nuur Faris Akram mahasiswa Manajemen dengan tujuan membuka ruang dialog, memperluas kesadaran kritis mahasiswa, serta menghadirkan budaya diskusi yang sehat di lingkungan kampus.

Film Dokumenter pesta babi ini menggambarkan kehidupan masyarakat Papua yang menghadapi berbagai persoalan sosial dan pembangunan, mulai dari konflik tanah, eksploitasi sumber daya alam, perubahan sosial akibat investasi dan proyek pembangunan, hingga suara masyarakat adat yang kerap merasa tidak mendapatkan ruang yang adil dalam menentukan masa depan wilayah mereka sendiri.

Dalam suasana sederhana namun penuh antusiasme, peserta nobar tidak hanya menonton film bersama, tetapi juga terlibat dalam diskusi terbuka mengenai makna dokumenter, kebebasan akademik, hak berekspresi, dan pentingnya ruang dialog di lingkungan kampus.

Sebagai mahasiswa, kami juga menyampaikan kritik terhadap berbagai praktik pembangunan yang mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan hak-hak masyarakat lokal.

Kami menilai bahwa pembangunan tidak boleh dijadikan alasan untuk merusak hutan, merampas ruang hidup masyarakat adat, ataupun membungkam suara-suara kritis rakyat.

Ketika lingkungan dihancurkan atas nama investasi dan masyarakat kehilangan hak atas tanahnya sendiri, maka negara, perusahaan, dan seluruh pemangku kebijakan perlu dievaluasi secara serius.

Kami percaya bahwa keadilan sosial dan keadilan ekologis harus berjalan beriringan. Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan kepedulian terhadap krisis lingkungan, ketimpangan pembangunan, dan berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di Papua maupun di seluruh Indonesia.

Sebagai inisiator kegiatan, Reno Ramanda dan Nuur Faris Akram berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi awal dari tumbuhnya budaya literasi, diskusi, dan keberanian berpikir kritis di kalangan mahasiswa tanpa meninggalkan nilai-nilai akademik, etika, serta penghormatan terhadap perbedaan pandangan.

Dengan ini kami menyatakan sikap menolak seluruh kejahatan lingkungan khusus di daerah papua maupun seluruh Indonesia.

 

Baca Lainnya

Melayu Murka! Laskar Melayu Bersatu Kepri Kota Batam: “Hina Marwah Kami, Siap Kami Lawan!”

31 Mei 2026 - 12:58 WIB

::: Kisah Pak Am di Tanah Suci: Romantisme, Kursi Roda, & Ruang Maaf pada Istri Tercinta

31 Mei 2026 - 12:34 WIB

Dugaan Penggunaan Kapal Patroli Imigrasi untuk Kepentingan Pribadi Jadi Sorotan, Publik Minta Klarifikasi

31 Mei 2026 - 10:19 WIB

Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belakang Padang Umumkan Penyesuaian Jadwal Pelayanan dalam Rangka Hari Lahir Pancasila Tahun 2026

31 Mei 2026 - 08:00 WIB

Perkuat Barisan, Perkokoh Organisasi: LMB KEPRI KOTA BATAM Gelar Malam Keakraban di Batu Aji Batam

30 Mei 2026 - 17:12 WIB

Trending di Batam