Raenald Arzan Sitompul
(Calon Ketua Umum PB HMI)
Ketika HMI Harus Kembali Menemukan Jati Dirinya
Ada satu pertanyaan yang belakangan ini terus mengganggu pikiran saya yaitu masihkah HMI menjadi rumah bagi tumbuhnya tradisi intelektual? atau justru perlahan terjebak dalam rutinitas organisasi yang lebih sibuk mengurus dirinya sendiri daripada memikirkan masa depan bangsa?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang cukup mendalam. Sebab, ketika kita berbicara tentang Himpunan Mahasiswa Islam, kita tidak sedang membicarakan organisasi mahasiswa biasa. Kita sedang membicarakan sebuah gerakan yang sejak kelahirannya membawa cita-cita besar tentang keislaman, keindonesiaan, pendidikan, dan tanggung jawab sejarah kaum intelektual.
HMI lahir pada 5 Februari 1947, ketika Indonesia masih berada dalam situasi mempertahankan kemerdekaan. Kelahirannya bukan sekadar peristiwa organisatoris, melainkan manifestasi kesadaran bahwa mahasiswa harus mengambil peran dalam membangun bangsa. Sejak awal, HMI dibangun di atas keyakinan bahwa kemerdekaan politik harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas manusia dan kecerdasan masyarakat.
Namun, hari ini kita perlu berani melakukan refleksi. Apakah semangat tersebut masih menjadi napas utama gerakan HMI? Apakah perkaderan kita benar-benar melahirkan manusia yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan? Apakah forum-forum diskusi kita telah menghasilkan gagasan yang mampu menjawab persoalan masyarakat? Ataukah kita mulai terbiasa mengukur keberhasilan organisasi dari seberapa ramai kegiatan, seberapa besar acara, dan seberapa banyak kader yang berhasil menduduki jabatan?
Bagi saya, inilah saatnya HMI melakukan arus balik.
Pendidikan dan Persoalan Kedaulatan Bangsa
Saya meyakini bahwa salah satu persoalan mendasar bangsa Indonesia hari ini adalah belum sepenuhnya terwujudnya kedaulatan pendidikan. Kita sering membicarakan kemajuan bangsa melalui pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, investasi, dan perkembangan teknologi. Namun, kita terkadang lupa bahwa semua itu membutuhkan fondasi utama, yakni manusia yang memiliki kemampuan berpikir, menguasai pengetahuan, dan mampu menentukan arah kehidupannya sendiri.
Pendidikan tidak boleh hanya dipahami sebagai proses memperoleh ijazah, gelar akademik, atau tiket untuk memasuki dunia kerja. Lebih dari itu, pendidikan harus menjadi ruang pembebasan manusia dari kebodohan, ketergantungan, ketidakadilan, dan keterbatasan berpikir.
Dalam buku Arus Balik Pemuda: Reposisi Gerakan Menuju Seratus Tahun Cita-Cita Bangsa, yang saya tulis dan insya Allah akan dilounching dalam waktu dekat saya mengajak kita melihat kembali posisi pemuda dalam menghadapi perubahan zaman. Ada satu gagasan yang menurut saya penting untuk direnungkan yaitu pemuda tidak boleh hanya menjadi pengikut arus, tetapi harus mampu membaca perubahan, menguasai pengetahuan dan teknologi, membangun jaringan, serta menghadirkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Gagasan ini seharusnya menjadi bahan refleksi bagi HMI.
Kita memiliki jumlah mahasiswa yang besar, perguruan tinggi yang terus berkembang, dan generasi muda yang semakin mudah mengakses informasi. Tetapi apakah kemudahan akses tersebut otomatis melahirkan masyarakat yang berpengetahuan? Tentu tidak.
Hari ini kita hidup dalam situasi ketika informasi begitu mudah diperoleh, tetapi kemampuan mengolah informasi menjadi pengetahuan justru menjadi tantangan. Kita bisa membaca banyak hal, tetapi belum tentu mampu memahami persoalan. Kita bisa menyampaikan banyak pendapat, tetapi belum tentu memiliki argumentasi yang kuat.
Kita bisa aktif di media sosial, tetapi belum tentu hadir dalam menyelesaikan persoalan sosial.
Di sinilah pendidikan harus dikembalikan pada esensi utamanya: membentuk manusia yang merdeka dalam berpikir dan bertanggung jawab dalam bertindak.
Kedaulatan pendidikan berarti kita tidak boleh selamanya menjadi konsumen pengetahuan.
Kita harus mampu menjadi produsen gagasan, peneliti atas persoalan bangsa, dan pencipta solusi berdasarkan kebutuhan masyarakat Indonesia sendiri.
HMI dan Krisis Spirit Insan Akademis
Jika kita kembali membaca tujuan HMI, terdapat satu identitas fundamental yang tidak boleh kehilangan maknanya, yaitu insan akademis.
Bagi saya, insan akademis bukan sekadar seseorang yang memiliki status mahasiswa, memakai almamater, atau mampu berbicara dengan istilah-istilah ilmiah. Insan akademis adalah pribadi yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai dasar dalam memahami kehidupan, membangun argumentasi, mengambil keputusan, dan memperjuangkan kebenaran.
Insan akademis tidak mudah menerima sesuatu hanya karena disampaikan oleh seseorang yang memiliki jabatan atau kekuasaan. Ia terbiasa menguji, mempertanyakan, meneliti, dan mempertanggungjawabkan setiap pemikirannya.
Karena itu, saya melihat bahwa salah satu pekerjaan rumah terbesar HMI adalah menghidupkan kembali tradisi intelektual di dalam tubuh organisasi.
Kita perlu mengembalikan budaya membaca sebagai kebiasaan, bukan sekadar tugas ketika mengikuti kegiatan perkaderan.
Kita perlu menjadikan menulis sebagai tradisi, bukan hanya kewajiban menyelesaikan makalah. Kita perlu membangun forum diskusi yang melahirkan pertukaran gagasan, bukan sekadar ruang untuk mempertahankan pendapat masing-masing.
Lebih jauh, kita harus mulai membangun tradisi penelitian dan publikasi. Setiap persoalan masyarakat seharusnya dapat menjadi objek kajian kader HMI. Persoalan kemiskinan, ketimpangan pendidikan, konflik agraria, kerusakan lingkungan, demokrasi, hingga perkembangan kecerdasan buatan merupakan ruang-ruang perjuangan intelektual yang harus kita masuki.
Saya khawatir apabila HMI kehilangan tradisi akademisnya, organisasi ini akan kehilangan salah satu alasan terpenting mengapa ia harus tetap relevan bagi kehidupan bangsa.
Sebab, organisasi yang besar secara jumlah belum tentu besar secara pemikiran. Organisasi yang kuat secara struktur belum tentu kuat secara intelektual. Dan organisasi yang ramai dalam kegiatan belum tentu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Membangun Manusia, Bukan Sekadar Melanjutkan Struktur
Persoalan berikutnya yang menurut saya harus kita evaluasi adalah orientasi perkaderan.
Sering kali kita terlalu sibuk memastikan proses perkaderan berjalan secara administratif dan organisatoris. Kita berbicara mengenai jumlah peserta, kelulusan, kepengurusan, dan regenerasi struktural. Semua itu memang penting, tetapi jangan sampai kita melupakan tujuan yang jauh lebih mendasar: membentuk manusia.
Perkaderan seharusnya menjadi ruang pertumbuhan. Tempat seorang mahasiswa yang sebelumnya tidak terbiasa membaca mulai mencintai buku. Tempat seseorang yang sebelumnya takut menyampaikan pendapat mulai berani berpikir kritis.
Tempat seorang kader belajar memahami realitas sosial dan menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya mempunyai tanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat.
Saya ingin melihat HMI menjadi organisasi yang tidak hanya melahirkan kader yang pandai mengelola forum, tetapi juga melahirkan penulis, akademisi, peneliti, pengusaha, teknokrat, aktivis sosial, dan pemimpin yang mempunyai integritas.
Kita membutuhkan kader yang mampu berbicara tentang ekonomi dengan pemahaman yang kuat, membicarakan politik dengan perspektif yang kritis, memahami hukum dengan argumentasi yang tepat, serta menguasai teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan demikian, perkaderan tidak boleh hanya menghasilkan kader yang mampu bertahan dalam organisasi, tetapi harus menghasilkan manusia yang mampu memberikan manfaat di luar organisasi.
Jangan sampai kita berhasil mencetak banyak pengurus, tetapi gagal membentuk pemikir. Jangan sampai kita mampu melahirkan banyak pemimpin struktural, tetapi kehilangan generasi yang mampu menawarkan gagasan besar bagi bangsa.
Mengembalikan Independensi dan Keberanian Intelektual
Ada hal lain yang tidak kalah penting: independensi.
Menurut saya, tradisi intelektual tidak mungkin tumbuh tanpa keberanian untuk bersikap independen. Seorang kader harus memiliki kemampuan membedakan antara kepentingan organisasi, kepentingan masyarakat, dan kepentingan pribadi.
Independensi bukan berarti selalu berseberangan dengan kekuasaan. Bukan pula berarti harus selalu melakukan kritik tanpa menawarkan solusi. Independensi adalah kemampuan menjaga kejernihan berpikir dan keteguhan prinsip ketika berhadapan dengan berbagai kepentingan.
HMI harus mampu melahirkan kader yang tidak kehilangan keberanian berpikir hanya karena berhadapan dengan kekuasaan. Kader yang tidak mengorbankan prinsip hanya demi jabatan. Kader yang tidak menjadikan organisasi sebagai kendaraan untuk kepentingan pribadi.
Kita harus memahami bahwa kekuasaan tanpa pengetahuan dapat melahirkan kesewenang-wenangan, sementara pengetahuan tanpa keberanian hanya akan menjadi tumpukan pemikiran yang tidak pernah mengubah keadaan.
Karena itu, HMI harus mempertemukan keduanya: kecerdasan intelektual dan keberanian moral.
Dari Seremonial Menuju Gerakan Intelektual
Saya memaknai arus balik sebagai upaya mengembalikan arah perjuangan kepada nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi identitas HMI.
Arus balik bukan ajakan untuk terjebak dalam romantisme sejarah. Kita tidak cukup hanya membanggakan tokoh-tokoh besar HMI, mengulang cerita kejayaan masa lalu, atau menjadikan sejarah sebagai alat legitimasi bahwa organisasi ini pernah memiliki pengaruh besar dalam perjalanan bangsa.
Sejarah seharusnya menjadi tanggung jawab, bukan sekadar kebanggaan.
Jika generasi terdahulu mampu menghadirkan gagasan dan mengambil peran dalam perubahan bangsa, maka generasi hari ini harus mampu menjawab tantangan yang berbeda dengan kapasitas yang berbeda pula.
Hari ini, tantangan kita bukan hanya persoalan kolonialisme dalam bentuk klasik. Kita menghadapi ketimpangan akses pengetahuan, ketergantungan teknologi, disrupsi dunia kerja, krisis lingkungan, ketidakadilan ekonomi, dan persoalan demokrasi yang semakin kompleks.
Maka, gerakan HMI juga harus berkembang. Kita membutuhkan komisariat yang memiliki perpustakaan dan ruang diskusi produktif. Cabang yang mampu menghasilkan kajian kebijakan publik. Badan koordinasi yang membangun jaringan penelitian dan pengembangan pengetahuan. Serta kader yang menjadikan kemampuan akademik sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Kita harus bergerak dari budaya seremonial menuju budaya intelektual. Dari kebanggaan terhadap struktur menuju kekuatan gagasan. Dari sekadar mengkritik keadaan menuju kemampuan menawarkan perubahan.
Inilah arus balik yang saya maksud: mengembalikan ilmu pengetahuan ke pusat perjuangan HMI.
Masa Depan HMI Ditentukan oleh Kualitas Pemikirannya
Pada akhirnya, saya percaya bahwa masa depan HMI tidak cukup ditentukan oleh seberapa besar organisasi ini secara struktural. Masa depan HMI akan sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang dilahirkannya.
Apakah HMI masih mampu melahirkan kader yang membaca zamannya? Apakah HMI masih menjadi tempat tumbuhnya pemikiran kritis? Apakah HMI masih mampu menghadirkan gagasan yang dibutuhkan masyarakat? Dan yang paling penting, apakah kita masih memiliki keberanian untuk memperjuangkan kebenaran sekalipun berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab melalui forum formal atau pidato dalam kegiatan organisasi. Jawabannya harus hadir dalam perubahan tradisi, budaya perkaderan, kualitas pemikiran, dan kebermanfaatan kader bagi masyarakat.
Saya ingin menegaskan bahwa HMI tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai gerakan mahasiswa yang memiliki tanggung jawab intelektual dan sosial. Kita harus kembali menjadikan pendidikan sebagai medan perjuangan, pengetahuan sebagai kekuatan pembebasan, dan perkaderan sebagai proses membangun manusia yang merdeka.
Sebab, bangsa yang kehilangan kedaulatan pengetahuan akan selalu bergantung pada pemikiran orang lain. Dan organisasi yang kehilangan tradisi intelektualnya pada akhirnya hanya akan sibuk merawat kebesaran masa lalu tanpa mampu menciptakan masa depan.
Sudah saatnya HMI melakukan arus balik. Bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk menemukan kembali nilai-nilai yang membuat organisasi ini dilahirkan.
Kita tidak membutuhkan HMI yang hanya besar dalam seremoni, tetapi HMI yang besar dalam gagasan. Kita tidak membutuhkan kader yang hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi kader yang memiliki ilmu, keberanian, dan kemampuan untuk mewujudkannya.
Karena pada akhirnya, perjuangan HMI bukan sekadar tentang mempertahankan eksistensi organisasi, melainkan tentang bagaimana melahirkan manusia yang mampu menjaga martabat bangsa melalui ilmu pengetahuan. Yakin Usaha Sampai.


































