Askaranews.com. Jakarta-Kepulauan Riau (Kepri) bersiap memasuki babak baru dalam struktur pertahanan wilayah. Provinsi yang selama ini berada dalam cakupan komando kewilayahan TNI AD melalui Korem 033/Wira Pratama tersebut diproyeksikan memiliki Komando Daerah Militer (Kodam) sendiri.
Sosok yang diproyeksikan menjadi Panglima Kodam (Pangdam) pertama adalah Mayor Jenderal TNI Rionardo, perwira tinggi TNI AD lulusan Akademi Militer (Akmil) 1994 yang memiliki pengalaman panjang di lingkungan Infanteri, termasuk Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Apabila sesuai dengan agenda yang telah diberitakan, Mayjen TNI Rionardo akan dikukuhkan sebagai Pangdam XXV/Mahmud Riayat Syah dalam rangkaian agenda peringatan HUT ke-81 TNI di Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026. Pemberitaan mengenai agenda tersebut menyebut pembentukan Kodam baru sekaligus penunjukan Rionardo sebagai Pangdam pertama.
Dengan demikian, apabila agenda tersebut terlaksana, pengangkatan Rionardo akan menjadi bagian penting dari sejarah pembentukan struktur komando teritorial baru di Kepulauan Riau.
Dari Kopassus hingga Kementerian Pertahanan
Mayjen TNI Rionardo bukan nama baru dalam struktur TNI AD maupun Kementerian Pertahanan.
Perwira kelahiran Manado, 4 Agustus 1971, tersebut merupakan lulusan Akmil 1994. Dalam perjalanan kariernya, Rionardo pernah menempati sejumlah jabatan di lingkungan TNI AD, termasuk sebagai Danyonif 600/Raider, Dandim 0424/Tanggamus, Danbrigif 1/Jaya Sakti, hingga sejumlah posisi staf dan perencanaan di lingkungan TNI AD.
Ia kemudian dipercaya menduduki jabatan Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Kementerian Pertahanan sebelum pada 2025 mendapat amanah sebagai Staf Ahli Menteri Pertahanan Bidang Sosial.
Kementerian Pertahanan mencatat bahwa Rionardo dilantik sebagai Staf Ahli Menhan Bidang Sosial pada Juli 2025 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 75/TPA Tahun 2025 dan Keputusan Menteri Pertahanan Nomor KEP/929/M/VI/2025.
Posisi tersebut masih dijalankannya pada 2026. Dalam sebuah kegiatan Kemhan pada September 2026, Rionardo masih disebut sebagai Staf Ahli Menteri Pertahanan Bidang Sosial.
Rekam jejak yang panjang
Riwayat pendidikan dan penugasannya juga menunjukkan pengalaman lintas bidang. Selain pendidikan dasar kemiliteran, Rionardo tercatat pernah mengikuti pendidikan Komando, pendidikan terkait penanggulangan teror, Seskoad, Sesko TNI hingga Lemhannas.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa kariernya tidak hanya berlangsung pada penugasan lapangan, tetapi juga berkembang ke bidang staf, perencanaan, pendidikan, data dan informasi serta lingkungan Kementerian Pertahanan.
Karena itu, penempatan seorang perwira dengan latar belakang tersebut untuk memimpin organisasi komando wilayah yang baru dibentuk akan menjadi perhatian tersendiri dalam perkembangan organisasi TNI AD.
Mengapa Kepri membutuhkan Kodam sendiri?
Pertanyaan berikutnya adalah mengapa Kepulauan Riau mendapatkan struktur Kodam tersendiri?
Jawabannya tidak terlepas dari karakter geografis Kepri.
Provinsi Kepulauan Riau merupakan wilayah kepulauan yang memiliki posisi strategis di kawasan barat Indonesia. Wilayah ini berdekatan dengan jalur pelayaran internasional dan berbatasan dengan negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura.
Kepri juga memiliki wilayah perairan yang sangat luas. Kondisi tersebut membuat persoalan pertahanan dan keamanan wilayah tidak dapat dilihat hanya dari perspektif daratan.
Selat Malaka, Selat Singapura, hingga kawasan Laut Natuna Utara memiliki arti strategis bagi Indonesia, baik dari perspektif pertahanan, pelayaran, perdagangan maupun kepentingan ekonomi nasional.
Dalam konteks itulah pembentukan Kodam XXV/Mahmud Riayat Syah dapat dibaca sebagai bagian dari penataan kembali struktur komando teritorial TNI AD.
Pemberitaan mengenai pembentukan Kodam baru menyebut bahwa Kodam Kepri merupakan salah satu dari lima Kodam baru yang disiapkan TNI AD. Selain Kepri, terdapat pula pembentukan Kodam di Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara dan Papua Tengah.
Batam diproyeksikan menjadi markas Kodam
Kota Batam menjadi salah satu bagian penting dalam rencana pembentukan Kodam baru tersebut.
Informasi yang disampaikan Kepala Penerangan Korem 033/Wira Pratama, Lettu Inf Rudy R. Manurung, menyebutkan bahwa Kodam XXV/Mahmud Riayat Syah akan membawahi Korem 033/Wira Pratama dan markasnya direncanakan berada di Batam.
Untuk sementara, kegiatan Kodam disebut akan menggunakan gedung di kawasan Seraya, wilayah Kodim Batam.
Posisi Batam sendiri memiliki arti strategis. Selain sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Kepri, Batam berada sangat dekat dengan jalur perdagangan internasional dan kawasan Selat Singapura.
Karena itu, keberadaan markas komando utama TNI AD di Batam bukan semata persoalan administratif. Pembentukan struktur tersebut juga berkaitan dengan bagaimana sistem komando, koordinasi dan dukungan pertahanan di wilayah kepulauan dapat diselenggarakan secara lebih terintegrasi.
Bukan sekadar perubahan nama organisasi
Pembentukan Kodam pada dasarnya bukan sekadar perubahan nomenklatur.
Kodam merupakan komando utama kewilayahan TNI AD yang memiliki fungsi pembinaan teritorial serta koordinasi unsur-unsur kewilayahan sesuai struktur organisasi TNI.
Dengan hadirnya Kodam XXV/Mahmud Riayat Syah, struktur komando TNI AD di Kepri akan mengalami penataan. Korem dan satuan kewilayahan yang ada nantinya menjadi bagian dari sistem komando yang berada di bawah Kodam baru tersebut sesuai organisasi dan tugas yang ditetapkan.
Di sisi lain, proses pembentukan organisasi baru tentu juga membutuhkan kesiapan personel, fasilitas, anggaran, sarana pendukung serta penataan satuan.
Artinya, tantangan Pangdam pertama bukan hanya bagaimana menjaga stabilitas wilayah, tetapi juga membangun fondasi organisasi Kodam yang baru.
Tantangan Pangdam pertama
Sebagai Pangdam pertama, Mayjen TNI Rionardo—apabila pengangkatan tersebut terlaksana sesuai agenda—akan menghadapi tugas yang berbeda dengan seorang Pangdam yang mengambil alih organisasi yang sudah berjalan lama.
Ada setidaknya beberapa aspek yang akan menjadi perhatian.
Pertama, konsolidasi organisasi.
Kodam baru membutuhkan struktur yang jelas, pembagian tugas, kesiapan personel serta koordinasi antarsatuan.
Kedua, karakter geografis kepulauan.
Pertahanan di Kepri memiliki tantangan tersendiri karena sebagian besar wilayahnya merupakan laut dan pulau-pulau yang tersebar.
Ketiga, wilayah perbatasan.
Kepri berhadapan langsung dengan dinamika kawasan Asia Tenggara. Karena itu, koordinasi pertahanan wilayah dengan berbagai institusi terkait menjadi bagian penting dalam menjaga kepentingan nasional.
Keempat, sinergi dengan pemerintah daerah dan masyarakat.
Dalam konteks pertahanan negara, fungsi teritorial juga berkaitan dengan pembinaan hubungan antara TNI dan masyarakat serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur Forkopimda.
Kelima, kesiapsiagaan menghadapi bencana dan kondisi darurat.
Wilayah kepulauan memiliki tantangan tersendiri dalam distribusi logistik dan mobilisasi personel ketika terjadi bencana atau keadaan darurat. Infrastruktur dan karakter geografis menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam setiap sistem respons.
Nama Mahmud Riayat Syah
Penggunaan nama Mahmud Riayat Syah juga memiliki dimensi sejarah.
Mahmud Riayat Syah dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Johor-Riau-Lingga. Penggunaan nama tokoh sejarah lokal sebagai nama Kodam memberi dimensi simbolik yang menghubungkan identitas pertahanan dengan sejarah kawasan Kepulauan Riau.
Dengan demikian, nama Kodam XXV/Mahmud Riayat Syah tidak hanya menjadi identitas organisasi militer, tetapi juga merefleksikan keterkaitan antara institusi negara dan sejarah wilayah yang menjadi basisnya.
Babak baru pertahanan Kepri
Pembentukan Kodam XXV/Mahmud Riayat Syah pada akhirnya bukan hanya mengenai siapa yang menjadi Pangdam pertama.
Lebih jauh, langkah tersebut menandai perubahan struktur pertahanan wilayah di salah satu kawasan paling strategis Indonesia.
Jika agenda pengukuhan pada 5 Oktober 2026 berlangsung sesuai rencana, Mayjen TNI Rionardo akan tercatat sebagai Pangdam pertama Kodam XXV/Mahmud Riayat Syah.
Tugas pertamanya bukanlah pekerjaan ringan. Ia akan menjadi salah satu figur yang menentukan bagaimana organisasi baru tersebut dibangun, dikonsolidasikan dan menjalankan fungsi kewilayahannya.
Bagi Kepri, kehadiran Kodam baru juga membawa harapan agar penguatan pertahanan berjalan seiring dengan penguatan koordinasi antarlembaga, perlindungan wilayah perbatasan dan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi dinamika kawasan.
Sejarah baru tersebut kini menunggu momentum 5 Oktober 2026. (Red)


























