Menu

Mode Gelap
Bea Cukai Buru Rokok Ilegal, Manchester Diduga Mengalir dari Malaysia ke Batam, Siapa di Baliknya? Bareskrim Gerebek Kasino di Batam, 197 Orang Diamankan dan Rp7,79 Miliar Disita Bareskrim Ancam Pengusaha Judi di Batam, Masih Buka Bakal Disikat 81 TAHUN RI: MENULIS ULANG ARTI NASIONALISME DI ERA MODERN BP Batam Hormati Hak Warga, Buka Ruang Dialog dan Verifikasi dalam Penyiapan Lahan Sekolah Terintegrasi Merah Putih Sembilan Raja Negeri Kesultanan Aceh Darussalam Serukan Perdamaian Sejati Dan Implementasi MoU Helsinki

O p i n i

81 TAHUN RI: MENULIS ULANG ARTI NASIONALISME DI ERA MODERN

badge-check


 81 TAHUN RI: MENULIS ULANG ARTI NASIONALISME DI ERA MODERN Perbesar

Nasionalisme Indonesia tidak lahir dalam satu malam pada 17 Agustus 1945. Ia tumbuh perlahan dari ruang-ruang belajar yang sempit, dari kesadaran bahwa orang-orang yang berbeda suku, bahasa, agama, dan daerah ternyata memiliki nasib yang sama sebagai sebuah bangsa. Ia mulai menemukan bentuknya ketika Budi Utomo pada 1908 membangunkan kesadaran melalui pendidikan, kemudian menemukan ikrar yang lebih kukuh pada 1928 ketika para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara melebur dalam satu janji: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, Indonesia. Dari sanalah kesadaran itu menjelma keberanian untuk merebut kemerdekaan, dengan darah, air mata, pengorbanan dan nyawa sebagai harga yang harus dibayar. Sejarah nasionalisme Indonesia pada akhirnya adalah sejarah tentang cinta yang terus berubah bentuk: dari tekad untuk bangkit, menjadi keberanian untuk merdeka, lalu menjadi tanggung jawab untuk menjaga kemerdekaan.

Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi, medan perjuangan itu telah berubah. Jika para pahlawan yang gugur di medan perang tiba-tiba bangkit dan melihat kehidupan kita hari ini, mungkin mereka akan bertanya-tanya: di mana musuh yang harus kami lawan? Tidak ada lagi penjajah bersenjata yang datang dengan senapan. Tidak terdengar lagi dentuman meriam di jalan-jalan kota. Yang mereka temukan justru layar-layar gawai, media sosial, arus informasi yang tak pernah berhenti, serta manusia-manusia yang setiap hari bisa menjadi saudara sekaligus saling bermusuhan hanya karena perbedaan pendapat.

Dulu kemerdekaan dipertahankan dengan senjata. Hari ini ia harus dipertahankan dengan akal sehat, kejujuran, ilmu pengetahuan, integritas dan kemampuan menjaga persatuan. Dulu musuh datang dari luar dengan wajah yang mudah dikenali. Sekarang ancaman sering menyelinap tanpa suara: hoaks yang dipercaya sebagai kebenaran, ujaran kebencian yang dianggap keberanian, provokasi yang dibagikan tanpa diperiksa, fanatisme yang membuat kita membenci sesama anak bangsa, serta ketidakjujuran yang perlahan menggerogoti fondasi kehidupan bernegara.

Karena itu, di usia ke-81 tahun Republik Indonesia, barangkali sudah waktunya kita menulis ulang arti nasionalisme. Bukan untuk menghapus sejarah, melainkan untuk meneruskan cita-cita para pendahulu dengan cara yang sesuai dengan tantangan zaman. Nasionalisme tidak pernah usang. Ia hanya berganti pakaian. Jika dahulu ia hadir dalam bentuk bambu runcing dan perjuangan bersenjata, hari ini ia dapat hadir dalam bentuk buku yang dibaca dengan tekun, ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh, pekerjaan yang dilakukan dengan jujur, karya yang mengharumkan nama bangsa, serta keberanian untuk mengatakan tidak kepada kebencian dan perpecahan.

Nasionalisme pada hakikatnya adalah kesadaran untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa. Patriotisme adalah keberanian untuk berkorban demi kepentingan bangsa tersebut. Dahulu keduanya menemukan bentuk paling nyata dalam perjuangan merebut kemerdekaan fisik. Sekarang bentuk perjuangannya menjadi lebih sunyi, tetapi bukan berarti lebih ringan. Kita berhadapan dengan kebodohan, kemiskinan, ketimpangan, korupsi, ketidakadilan, kemerosotan etika, ancaman disintegrasi, dan derasnya arus informasi yang dapat memengaruhi cara kita berpikir tanpa kita sadari.

Bung Hatta pernah mengingatkan bahwa kekurangan kecerdasan dapat diperbaiki dengan belajar, kekurangan kecakapan dapat dibantu dengan pengalaman, tetapi ketidakjujuran jauh lebih sulit diperbaiki. Pesan itu terasa semakin relevan hari ini. Sebab bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan manusia-manusia pintar, tetapi juga manusia yang dapat dipercaya. Tidak cukup sebuah negara memiliki generasi yang menguasai teknologi jika teknologi itu digunakan untuk menipu, menghina, menyebarkan kebohongan, atau memperdagangkan kebencian.

Bagi seorang pelajar, patriotisme hari ini mungkin bukan mengangkat senjata, melainkan melawan kemalasan dan mengejar ilmu dengan kesungguhan. Bagi seorang pekerja, patriotisme adalah bekerja dengan jujur meskipun tidak ada yang mengawasi. Bagi seorang pengusaha, patriotisme adalah membangun usaha tanpa mengorbankan keadilan. Bagi seorang pejabat, patriotisme adalah memahami bahwa jabatan bukan mahkota, melainkan amanah. Bagi seorang jurnalis, patriotisme adalah menjaga kebenaran di tengah godaan kepentingan. Bagi setiap pengguna media sosial, patriotisme adalah menahan jari ketika sebuah berita belum tentu benar dan menahan lidah ketika sebuah pernyataan hanya akan melukai serta memecah belah sesama anak bangsa.

Sebab cinta kepada Indonesia tidak boleh berhenti sebagai kosmetik kebangsaan. Sangat mudah menulis “Aku Cinta Indonesia”, mengibarkan Merah Putih, mengenakan atribut kemerdekaan, lalu kembali melakukan sesuatu yang justru melukai bangsa ini. Nasionalisme tidak diuji ketika kita berada di tengah upacara dan semua orang menyanyikan lagu kebangsaan. Nasionalisme diuji ketika tidak ada kamera, ketika tidak ada tepuk tangan, ketika kita memiliki kesempatan untuk berbuat curang tetapi memilih tetap jujur.

Di situlah perkataan dan perbuatan menemukan maknanya. Al-Qur’an Surah As-Saff ayat 2-3 mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” Pesan itu melampaui ruang ibadah dan menjadi cermin moral bagi kehidupan manusia. Jika kita mengaku mencintai Indonesia, maka cinta itu harus terlihat dalam perilaku. Jangan sampai mulut kita berbicara tentang persatuan, tetapi tangan kita menyebarkan kebencian. Jangan sampai kita meneriakkan keadilan, tetapi diam ketika melihat ketidakadilan. Jangan sampai kita mengaku mencintai bangsa, tetapi setiap hari mengambil sesuatu yang bukan hak kita.

Nasionalisme sejati justru tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten. Ia hadir ketika kita tidak menyebarkan hoaks. Ia tumbuh ketika kita menghormati orang yang berbeda pilihan, suku, agama, dan latar belakang. Ia hidup ketika kita membuang sampah pada tempatnya, mematuhi aturan lalu lintas, jujur dalam ujian, membayar kewajiban dengan benar, menghargai pekerja kecil, dan tidak merendahkan mereka yang kehidupannya belum seberuntung kita.

Ia juga hidup ketika kita memilih membeli karya anak bangsa dan mendukung UMKM di sekitar kita. Bukan karena kita harus membenci produk luar negeri, tetapi karena kita memahami bahwa di balik sebuah produk lokal ada tangan seorang ibu yang sedang menghidupi keluarganya, ada seorang ayah yang sedang mempertahankan usahanya, ada anak muda yang sedang mengejar cita-cita. Ketika kita membantu usaha mereka tumbuh, sesungguhnya kita sedang membantu menjaga denyut ekonomi bangsa.

Kita tentu tidak boleh takut terhadap dunia. Indonesia tidak dibangun untuk menjadi bangsa yang menutup diri. Kita harus menguasai teknologi, memahami bahasa asing, mempelajari ilmu pengetahuan dari seluruh dunia, dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Tetapi menjadi modern tidak berarti harus kehilangan jati diri. Menjadi global tidak berarti harus mencabut akar kita sendiri.

Ki Hajar Dewantara telah mengingatkan agar kita tidak melupakan sifat dan kepribadian sendiri. Kita boleh mengambil ilmu, teknologi, dan pengetahuan dari mana pun selama semuanya memperkaya kehidupan bangsa. Sebab kemajuan yang membuat kita kehilangan identitas bukanlah kemajuan yang sempurna. Kita boleh mengenakan pakaian dunia, tetapi jangan sampai lupa dari tanah mana kaki kita berpijak.

Indonesia harus hadir sebagai subjek, bukan sekadar konsumen. Kita tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk orang lain, penonton bagi karya bangsa lain, atau pengikut tren yang datang silih berganti. Kita harus mampu menciptakan, menghasilkan, menemukan, dan membawa kebudayaan sendiri ke panggung dunia. Batik, musik, sastra, kuliner, bahasa, seni, teknologi, ilmu pengetahuan, hingga kreativitas anak-anak muda Indonesia harus menjadi bagian dari wajah bangsa yang percaya diri.

Lalu apa yang sebenarnya diharapkan para pendahulu kita dari generasi yang hidup 81 tahun setelah kemerdekaan?

Mereka tentu tidak mengharapkan kita terus-menerus hidup dalam romantisme masa lalu. Mereka telah berjuang agar kita memperoleh masa depan. Mereka tidak menitipkan Indonesia untuk sekadar dijadikan bahan pidato setiap bulan Agustus. Mereka menitipkan sebuah negeri agar kita isi dengan keadilan, ilmu pengetahuan, kemakmuran, persaudaraan dan kehormatan.

Jenderal Sudirman pernah mengobarkan keyakinan bahwa jiwa yang dilindungi benteng Merah Putih akan tetap hidup dan siap menuntut bela. Hari ini, benteng Merah Putih itu bukan hanya barisan tentara. Ia adalah karakter rakyatnya. Ia adalah kejujuran para pemimpinnya. Ia adalah kecerdasan generasinya. Ia adalah keteguhan moral masyarakatnya. Jika karakter itu runtuh, maka sebuah bangsa dapat kehilangan kedaulatannya bahkan tanpa satu peluru pun ditembakkan.

Karena itu, nasionalisme juga harus dimulai dari rumah. Orang tua tidak cukup hanya menyuruh anak mencintai Indonesia. Anak-anak belajar mencintai bangsa dari apa yang mereka lihat setiap hari. Seorang ayah yang jujur dalam pekerjaannya sedang mengajarkan nasionalisme. Seorang ibu yang mengajarkan anaknya menghormati orang lain sedang menanamkan nasionalisme. Orang tua yang membiasakan anak meminta maaf ketika bersalah sedang membangun karakter warga negara. Keluarga yang menjaga lisan dari fitnah dan kebencian sedang ikut menjaga persatuan Indonesia.

Anak tidak membutuhkan terlalu banyak ceramah tentang cinta tanah air jika setiap hari ia melihat cinta itu dipraktikkan di rumah. Ia akan memahami bahwa menjadi orang Indonesia bukan sekadar memiliki kartu identitas, lahir di wilayah Nusantara, atau hafal lagu kebangsaan. Menjadi Indonesia adalah kesediaan untuk hidup bersama dalam perbedaan, memberi manfaat bagi sesama, dan menjaga agar negeri yang diwariskan kepada kita tidak menjadi lebih buruk ketika kelak kita serahkan kepada generasi berikutnya.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar di usia 81 tahun kemerdekaan bukanlah apakah kita masih mencintai Indonesia. Hampir semua orang akan menjawab: ya. Pertanyaan yang jauh lebih sulit adalah: apa yang telah kita lakukan karena cinta itu?

Apa yang kita korbankan? Apa yang kita perbaiki? Siapa yang pernah kita bantu? Kebohongan apa yang pernah kita hentikan? Ketidakadilan apa yang pernah kita lawan? Persatuan apa yang pernah kita jaga? Ilmu apa yang telah kita kuasai? Karya apa yang telah kita lahirkan? Dan ketika suatu hari anak cucu kita bertanya tentang Indonesia yang kita wariskan, apakah kita dapat menjawab dengan tenang bahwa kita telah menjaganya sebaik-baiknya?

Sebab kemerdekaan tidak akan pernah benar-benar selesai diperjuangkan. Proklamasi hanya menandai berakhirnya satu bentuk penjajahan dan dimulainya tanggung jawab yang jauh lebih panjang. Setiap generasi memiliki medan perjuangannya sendiri. Generasi 1945 mempertaruhkan nyawa untuk merebut kemerdekaan. Generasi hari ini harus mempertaruhkan integritas, kecerdasan, kerja keras dan persaudaraan untuk memastikan kemerdekaan itu tidak kehilangan maknanya.

Maka pada usia ke-81 Republik Indonesia, mari kita berhenti mengukur nasionalisme dari seberapa keras kita meneriakkan “Merdeka!”. Ukurlah dari seberapa jujur kita bekerja, seberapa tulus kita menolong, seberapa kuat kita menolak kebencian, seberapa berani kita melawan ketidakadilan, dan seberapa besar manfaat yang mampu kita berikan kepada sesama.

Jika para pahlawan dahulu menumpahkan darah agar Merah Putih dapat berkibar, tugas kita hari ini adalah memastikan bahwa di bawah kibaran Merah Putih itu tidak ada manusia yang kehilangan harapan, tidak ada anak yang kehilangan kesempatan untuk belajar, tidak ada orang kecil yang kehilangan martabat, dan tidak ada persaudaraan yang hancur hanya karena perbedaan.

Barangkali itulah cara paling sederhana sekaligus paling dalam untuk membalas pengorbanan mereka.

Bukan dengan sekadar mengenang nama-nama mereka, tetapi dengan meneruskan nilai-nilai yang mereka perjuangkan.

Bukan dengan hanya menangisi sejarah, tetapi dengan memastikan sejarah tidak sia-sia.

Dan bukan hanya dengan berkata kita mencintai Indonesia, melainkan dengan hidup sedemikian rupa sehingga Indonesia menjadi lebih baik karena kita pernah ada di dalamnya.

Delapan puluh satu tahun Republik Indonesia adalah perjalanan panjang sebuah bangsa. Tetapi bagi kita, ia bukan sekadar angka. Ia adalah pertanyaan yang dititipkan sejarah kepada setiap hati: setelah 81 tahun kemerdekaan, Indonesia seperti apa yang akan kita tinggalkan?

Semoga jawabannya kelak bukan hanya sebuah negeri yang merdeka secara politik, tetapi bangsa yang merdeka dari kebodohan, kemiskinan, ketidakjujuran, kebencian dan perpecahan.

Karena pada akhirnya, mencintai Indonesia bukan tentang seberapa sering kita menyebut namanya.

Cinta itu adalah ketika kita bekerja untuknya, menjaga sesamanya, merawat tanahnya, menghormati perbedaannya, dan rela melakukan sesuatu yang baik meskipun tidak seorang pun melihat.

Itulah nasionalisme yang tidak membutuhkan panggung.

Nasionalisme yang tidak membutuhkan tepuk tangan.

Nasionalisme yang tidak berhenti pada upacara.

Nasionalisme yang hidup dalam diam, tumbuh dalam tindakan, dan diwariskan melalui keteladanan.

Dan jika suatu hari nanti kita telah tiada, semoga Indonesia masih menjadi negeri yang lebih baik karena pernah ada generasi yang sungguh-sungguh mencintainya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka bukan hanya karena kita telah bebas.

Merdeka adalah ketika kita mampu menjaga kebebasan itu dengan hati yang jujur, pikiran yang merdeka, dan perbuatan yang berguna bagi sesama.

Merdeka!

Baca Lainnya

Kembara Daik Lingga: Antara Mitos Gunung Daik Dan Khazanah Sejarah

15 Agustus 2026 - 14:21 WIB

JANGAN PERGI, MESKI BENDERA TELAH KUSAM (Momentum tabayyun di ulang tahun kemerdekaan)

14 Agustus 2026 - 10:05 WIB

Merdeka Dari Penjilat dan Pengkianat: Refleksi HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia

13 Agustus 2026 - 17:08 WIB

Kritik dan Harapan: Jangan Buat Timnas Indonesia Sensi dan Baperan

11 Agustus 2026 - 12:10 WIB

Garuda Terhenti Di Pintu Semifinal! Singapura Luluhkan Mimpi Indonesia, Vietnam Perkasa Sapu Takhta Grup A

7 Agustus 2026 - 17:13 WIB

Trending di O p i n i