Hari Santri Nasional 2026, Tekankan Peran Santri Menuju Indonesia Emas Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Aset, Keuangan dan Database Kendaraan SIMAKDARA Provinsi Kepri Diluncurkan 3 Ribu Santri Meriahkan Peringatan Hari Santri Nasional Tingkat Provinsi Kepri 2026 Pemko Tanjungpinang Siapkan Penyambutan Kontingen Porprov Kepri VI Iman Sutiawan: Kritik Blackout Boleh, Jangan Sampai Jadi Bumerang bagi Batam Milad ke-33 MAN 1 Cilegon, Kakanwil Kemenag Banten Dorong Peningkatan Kompetensi Siswa

Nasional

Wakil Ketua MUI Sebut Kemungkinan Lebaran Idul Fitri 2026 Tidak Serempak

badge-check


 Wakil Ketua MUI Sebut Kemungkinan Lebaran Idul Fitri 2026 Tidak Serempak Perbesar

AskaraNews.Com, Jakarta-Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menyampaikan pernyataan bahwa kemungkinan besar Lebaran Idul Fitri 2026 berbeda atau tidak serempak pada hari dan tanggal yang sama di Tanah Air.

 

Kendati demikian, KH Cholil Nafis meminta publik untuk mengikuti hasil sidang isbat yang akan digelar pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI untuk kepastiannya.

 

“Sebagaimana puasanya, kayaknya lebarannya juga beda-beda kita ya. Muhammadiyah menyampaikan berlebaran pada 1 Syawal bertepatan dengan tanggal 20. PERSIS sudah mengumumkan tanggal 21 lebarannya karena tidak imkanur rukyah. NU nunggu rukyah tapi sepertinya tanggal 21,” kata KH Cholil Nafis dalam video diunggah di akun Instagram pribadinya.

 

KH Cholil Nafis menyatakan, kemungkinan besar Lebaran Idul Fitri 2026 jatuh pada tanggal 21 karena berdasarkan hasil perhitungan ilmu falak, hilal di seluruh wilayah Indonesia tidak ada yang sampai 3 derajat pada tanggal 20 Maret 2026.

 

“Yang paling tinggi di Aceh itu cuma 2,51 derajat, elongasinya 6,1 derajat. Sementara ketentuan kriterianya minimal imkanur rukyah bulan bisa dilihat kalau di atas 3 derajat lalu elongasinya minimal 6,4 derajat,” ungkap Cholil Nafis.

 

Dia berharap penentuan 1 Syawal benar-benar dilakukan sesuai fakta hasil penglihatan bulan pada tanggal 29 Ramadhan. Jika memang belum terlihat, harus diungkap apa adanya dan ibadah puasa Ramadhan wajib disempurnakan menjadi 30 hari.

 

“Nah, nanti biasanya ada ini yang pengin lebaran bareng, nggak melihat bulan, bersaksi melihat bulan. Padahal yang dilihat itu kunang-kunang. Oleh karena itu, pemerintah kita minta bijak ya sebagaimana tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.

 

Lebaran adalah pertanggungjawaban spiritual-keagamaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan tidak ada keterkaitan dengan dimensi politik atau yang lainnya. Oleh sebab itu, pengungkapan fakta yang sebenarnya terkait hilal merupakan suatu keniscayaan dilakukan.

 

(Jika memang hilal tidak terlihat) Jangan dipaksa orang semuanya harus tanggal 20. Sebagaimana orang yang mau lebaran 20, jangan dipaksa ke tanggal 21. Kalau nanti pengin sepakat, sepakati dulu metodenya dan itu berkenaan dengan keyakinan kita. Bebas melakukan keyakinan asalkan berdasar, bukan asal asalan,” tuturnya

 

 

Baca Lainnya

DEN Dorong MBG Prioritaskan Wilayah 3T, Desa dan Masyarakat Miskin

21 Oktober 2026 - 05:32 WIB

PB PII Desak Presiden Evaluasi Total Menteri Kehutanan: Karhutla Terus Meluas, Pelajar Ikut Menanggung Dampaknya

20 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Sekjen PP KMHDI Ingatkan Pemerintah Cegah Penguasaan Lahan Bekas Kebakaran oleh Oligarki

20 Oktober 2026 - 12:52 WIB

Evaluasi Dua Tahun Prabowo–Gibran: Stop Program Populis, Wujudkan Pendidikan dan Kesehatan Gratis

20 Oktober 2026 - 07:28 WIB

Kongres Syarikat Islam ke-42 di Surabaya berlangsung sukses, Lancar dan Khidmat.

19 Oktober 2026 - 11:24 WIB

Trending di Nasional