Menu

Mode Gelap
Wali Kota Sabang Peusijuk Tiga Komandan, Perkuat Sinergi Forkopimda Terima Kasih Kapolda Aceh, M Nasir Djamil Apresiasi Sikap Humanis Ruddi Setiawan Hadapi Massa HDA Walikota Langsa Kukuhkan 22 orang Paskibraka Kota Langsa Tahun 2026: Siap Kibarkan Sang Merah Putih Pisah Sambut Kajari Tanjungpinang, Wali Kota Lis Dorong Sinergi Penegakan Hukum dan Pembangunan Daerah Jelang Diluncurkan Besok, 235 Warga Desil 1 Aktifkan Kartu Bima Sakti di BTN Pisah Sambut Kajari Tanjungpinang, Wali Kota Lis Dorong Sinergi Penegakan Hukum dan Pembangunan Daerah

Nusantara

Menu “Diet Ketat” MBG di Kota Banjar

badge-check


 Menu “Diet Ketat” MBG di Kota Banjar Perbesar

AskaraNews.com,Banjar-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Banjar kini resmi memasuki fase “minimalis” yang mencengangkan. Aktivis mahasiswa, Sandi Mardiana Putra, kembali melontarkan kritik pedas setelah menemukan fakta lapangan yang jauh dari narasi kemakmuran pangan. Menurutnya, paket yang dibagikan lebih mirip bekal darurat pengungsi daripada investasi gizi nasional.

Trilogi Nutrisi: 3 Butir Kurma, Roti Murah, dan Susu “Irit”
Sandi menyoroti paket menu yang jauh dari standar kecukupan kalori untuk siswa. Ia menemukan bahwa dalam satu kotak makanan, komponen “bergizi” yang dijanjikan menyusut drastis menjadi kombinasi yang tidak masuk akal secara medis maupun ekonomi.

“Pemerintah sepertinya sedang melakukan eksperimen sosial: seberapa kuat anak-anak Banjar bertahan hidup hanya dengan 3 butir kurma dan sepotong roti harga 2000-an,” sindir Sandi dengan nada satir yang kental. “Susu kotak murni yang diberikan pun porsinya sangat irit. Kalau ditotal, nilai gizi dan harganya sangat jauh dari standar anggaran yang digembar-gemborkan.”

Analisis Sandi: Gizi yang Dipangkas Demi Cuan Vendor
Sandi Mardiana Putra menilai bahwa menu “tiga butir kurma” ini adalah bentuk penghinaan terhadap akal sehat rakyat. Ia mempertanyakan transparansi aliran dana yang seharusnya menjadi hak gizi anak sekolah, namun diduga bocor di tengah jalan menuju kantong vendor.

Matematika Ajaib: Anggaran per porsi yang katanya belasan hingga puluhan ribu rupiah, tapi faktanya hanya mewujud dalam roti yang teksturnya lebih mirip karet dan kurma yang jumlahnya bisa dihitung jari satu tangan.

Standar Ganda: Pejabat pamer foto makan mewah di media sosial, sementara anak sekolah di Banjar disuguhi menu yang lebih cocok disebut “camilan pengganjal lapar” daripada makan siang bergizi.

Susu Pemanis: Susu kotak yang dibagikan dinilai hanya sebagai pelengkap agar terlihat “wah” di kamera, tanpa mempertimbangkan apakah kandungan gulanya lebih tinggi daripada proteinnya.

“Jangan Jadikan Anak Banjar Objek Penghematan Anggaran!”
Dengan gaya bicaranya yang vokal, Sandi menegaskan bahwa jika program ini terus berjalan dengan cara “asal ada” seperti ini, maka Kota Banjar hanya akan melahirkan generasi yang mahir menghitung biji kurma, bukan generasi emas.

“Kita tidak butuh penghematan anggaran di piring anak-anak. Kalau vendornya tidak sanggup memberikan protein nyata—seperti telur atau daging—ya jangan dipaksakan. Jangan sampai kurma dan roti murah ini jadi saksi bisu betapa serakahnya tata kelola proyek MBG di kota ini,” tegas Sandi.

Sandi Mardiana Putra menutup kritiknya dengan tuntutan agar pemerintah Kota Banjar segera melakukan sidak mendadak ke gudang vendor dan membuka kontrak kerjasama agar publik tahu: ke mana larinya sisa uang dari harga roti 2000-an tersebut

Baca Lainnya

Wali Kota Sabang Peusijuk Tiga Komandan, Perkuat Sinergi Forkopimda

16 Agustus 2026 - 15:49 WIB

Walikota Langsa Kukuhkan 22 orang Paskibraka Kota Langsa Tahun 2026: Siap Kibarkan Sang Merah Putih

16 Agustus 2026 - 14:25 WIB

Semangat Kemerdekaan, IMPAS Aceh-Jakarta Gelar Bakti Sosial dan Cek Kesehatan Gratis bagi Warga Pemulung

15 Agustus 2026 - 10:43 WIB

Gempa Magnitudo 7,7 Guncang NTT, TNI Kerahkan Personel, Hercules, dan KRI Bantu Masyarakat Terdampak

15 Agustus 2026 - 08:43 WIB

Kawal Moralitas Daerah, BEM STIS Al-Wafa Turun Aksi Desak Penerbitan Perwali dan Tolak LGBT

14 Agustus 2026 - 18:09 WIB

Trending di Nusantara