Askaranews.com. Karawang-Pengalaman menjalani tindakan medis yang tidak menyenangkan diduga meninggalkan dampak psikologis pada seorang anak yang pernah mendapatkan pelayanan di RS Permata Keluarga Karawang.
Berdasarkan keterangan keluarga, anak tersebut menjalani pemeriksaan pada 29 Juli 2026 dengan keluhan demam, mual, dan sakit kepala. Dalam proses persiapan rawat inap, pemasangan infus diduga mengalami kegagalan sebanyak lima kali.
Anak dilaporkan menangis dan menjerit kesakitan. Orang tua kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan rawat inap.
Pada 7 September 2026, keluarga membawa anak tersebut menjalani asesmen psikologis di Farida Aini Consulting, Depok.
Dalam keterangan tertulis pemeriksa, anak menyebut pernah mengalami demam dan ditusuk-tusuk. Anak juga memperagakan gerakan menusuk tangan menggunakan jari, terlihat menyembunyikan wajah di balik bantal sofa, dan menyatakan tidak mau dibawa ke rumah sakit lagi.
Psikolog menyampaikan bahwa pengalaman tersebut tampaknya dapat menjadi salah satu stresor yang berdampak terhadap persepsi anak mengenai pengobatan di rumah sakit. Pemeriksa juga merekomendasikan asesmen lebih lanjut dan mempertimbangkan intervensi psikologis.
Advokat Romadhoni, S.Sy., CPM., CPS., yang mendampingi keluarga, menegaskan bahwa dampak psikologis pada pasien anak tidak boleh diabaikan.
“Anak bukan hanya membutuhkan pelayanan medis untuk mengatasi penyakitnya. Mereka juga membutuhkan rasa aman, perlindungan, dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi usianya,” ujar Romadhoni.
Ia menegaskan bahwa keluarga menginginkan adanya evaluasi terhadap tindakan medis dan tanggung jawab pelayanan yang diberikan.
Keluarga berharap hasil pemeriksaan psikologis tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam penyelesaian persoalan, tanpa mendahului pemeriksaan profesional mengenai hubungan sebab akibat.

























