Askaranews.com. Jakarta-Sebanyak 200 pemuda mengikuti Latihan Kepemimpinan Pemuda (LKP) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2026 yang digelar pada 29-30 September 2026 di Gelanggang Jakarta Timur. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meningkatkan kapasitas, karakter, dan kepemimpinan generasi muda.
Peserta LKP terbagi dalam dua kategori, yakni 100 peserta dari jenjang SMA/SMK/MAN atau sederajat dan 100 peserta dari kalangan mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), komunitas, serta organisasi kepemudaan.
Sebelum memasuki tahap pelaksanaan, proses pendaftaran berlangsung pada 10-20 September 2026. Tercatat sebanyak 313 pemuda mendaftar, terdiri atas 191 peserta kategori SMA/SMK/MAN atau sederajat dan 122 peserta dari kategori universitas, BEM, komunitas, dan organisasi kepemudaan.
Setelah melalui seleksi administrasi pada 21 September 2026, panitia menetapkan masing-masing 100 peserta untuk mengikuti kegiatan pada kedua kategori tersebut.
LKP DKI Jakarta 2026 diselenggarakan dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan. Kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesadaran pemuda mengenai peran dan tanggung jawabnya sebagai penggerak perubahan, sekaligus memperkuat kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kerja sama tim, serta pengambilan keputusan.
Selain itu, peserta dibekali kemampuan untuk mengidentifikasi persoalan, menyusun alternatif penyelesaian, serta mengambil keputusan dengan mempertimbangkan risiko dan kepentingan berbagai pihak.
Narasumber dalam kegiatan tersebut berasal dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi kemahasiswaan, komunitas kepemudaan, hingga sektor swasta dan startup.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi DKI Jakarta menekankan bahwa kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan posisi atau jabatan.
Menurutnya, pemimpin muda perlu memiliki karakter, integritas, keberanian mengambil keputusan, kemampuan bekerja sama, serta kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Pemimpin muda tidak selalu harus berada di depan. Pemimpin adalah mereka yang mampu memberikan keteladanan, mendengarkan, mengambil tanggung jawab, menyelesaikan persoalan, dan menghadirkan manfaat bagi orang lain,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Ia juga menempatkan pengembangan kepemudaan dalam konteks perjalanan Jakarta menuju usia lima abad. Jakarta, menurutnya, perlu terus berkembang sebagai kota modern, inovatif, inklusif, kompetitif, dan memiliki daya saing global, tanpa kehilangan karakter dan identitas budayanya.
“Jakarta harus menjadi kota global yang tetap berbudaya,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, pemuda dinilai memiliki posisi penting karena akan menjadi generasi yang mengisi, menggerakkan, sekaligus menentukan wajah Jakarta pada masa mendatang.
Peserta pun didorong untuk tidak berhenti sebagai penerima materi selama pelatihan, tetapi mampu menjadi aktor perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka diharapkan berani berpikir kritis, menyampaikan gagasan, menghargai perbedaan, membangun kolaborasi, dan menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat.
Pesan serupa disampaikan Drs. Imam Gunawan, M.A.P. Ia mengapresiasi pelaksanaan LKP sebagai ruang bagi generasi muda untuk membangun karakter, kepercayaan diri, kemampuan bekerja sama, dan jiwa kepemimpinan.
Menurut Imam, pengembangan kepemimpinan perlu dilakukan sejak dini. Kepemimpinan tidak hanya ditandai dengan kemampuan berada di posisi terdepan, tetapi juga tanggung jawab, keberanian mengambil keputusan, kemampuan mendengarkan, menghargai perbedaan, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Ia menyebut pelaksanaan LKP sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, khususnya dalam pengembangan potensi, kapasitas, karakter, dan kepemimpinan pemuda.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta Zuhud Pana Graha, SH, M.Si., menegaskan bahwa LKP tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan pelatihan maupun menghasilkan sertifikat.
Menurut Zuhud, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh peserta selama kegiatan harus diterjemahkan menjadi aksi nyata setelah mereka kembali ke lingkungan masing-masing.
“Jangan sampai LKP hanya menghasilkan sertifikat, tetapi harus menghasilkan gerakan dan perubahan,” ujarnya.
Ia mendorong peserta, khususnya dari kalangan mahasiswa, BEM, komunitas, dan organisasi kepemudaan, untuk mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar.
Aksi perubahan, kata dia, tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Pemuda dapat memulainya dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, kemudian mengembangkan gagasan, membangun kolaborasi, dan menghadirkan solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pemimpin muda bukan hanya mereka yang mampu berbicara di depan banyak orang, tetapi mereka yang mampu mengambil peran, memberikan solusi, menggerakkan orang lain, dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya,” kata Zuhud.
Melalui LKP 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap lahir generasi muda yang berintegritas, adaptif, kreatif, inovatif, empatik, serta memiliki kepedulian sosial dan karakter budaya yang kuat.
Program tersebut sekaligus diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi pemuda untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan sekaligus membangun jejaring dan kolaborasi lintas komunitas.
Dengan demikian, momentum menuju lima abad Jakarta tidak hanya menjadi penanda perjalanan sejarah sebuah kota, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menyiapkan generasi muda yang mampu berkontribusi terhadap pembangunan Jakarta sebagai kota global yang maju, inklusif, berbudaya, dan memberikan ruang bagi setiap generasi untuk tumbuh serta berkontribusi.



























