Menu

Mode Gelap
Amsakar-Li Claudia Apresiasi Sinergi PLN Batam dan Altiva, Perkuat Ekosistem Data Center di Batam Tingkatkan Layanan Publik, Amsakar Resmikan Gedung Arsip dan Musala PN Batam Firmansyah: Budaya Baca Jadi Fondasi Membangun SDM Unggul dan Batam Madani Batam Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan Korea Selatan, Siapkan SDM Berdaya Saing Global Amsakar-Li Claudia Gesa OPD Percepat Realisasi 15 Program Prioritas Pemko Batam Perkuat Perencanaan Penanggulangan Bencana

Dunia

Prancis Minta Sidang DK PBB Soal Serangan terhadap UNIFIL

badge-check


 CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v80), default quality Perbesar

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v80), default quality

Pernyataan Menteri Luar Negeri Prancis tentang Serangan terhadap Pasukan PBB

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, pada hari Senin menyampaikan pernyataan yang sangat keras terkait serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon. Ia mengecam tindakan tersebut dan meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas situasi ini.

“Prancis mengutuk sekeras-kerasnya penembakan yang menyebabkan kematian seorang penjaga perdamaian UNIFIL Indonesia pada tanggal 29 Maret dan melukai tiga anggota pasukan lainnya, serta ledakan yang menyebabkan kematian dua penjaga perdamaian Indonesia lainnya pada tanggal 30 Maret dan melukai dua anggota pasukan lainnya,” ujar Barrot dalam sebuah pernyataan yang disampaikan melalui platform media sosial X.

Ia menekankan bahwa serangan-serangan seperti ini tidak dapat diterima dan tidak dapat dibenarkan. “Prancis menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga para penjaga perdamaian yang gugur dan solidaritasnya dengan Indonesia, serta mendoakan kesembuhan yang cepat bagi personel yang terluka. Prancis menyerukan agar kejelasan penuh ditetapkan mengenai keadaan tragedi ini,” tambahnya.

Barrot juga mengecam insiden yang melibatkan kontingen Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) Prancis di daerah Naqoura. Ia menilai ancaman terhadap keamanan dan tindakan intimidasi oleh tentara Israel terhadap personel PBB ini tidak dapat diterima dan tidak dapat dibenarkan, terutama karena prosedur dekonflik telah dihormati. “Kecaman ini telah disampaikan dengan tegas kepada duta besar Israel di Paris,” katanya.

Ia mendesak semua pihak untuk menghormati Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 dan memastikan keselamatan personel PBB. “UNIFIL harus dapat sepenuhnya melaksanakan mandatnya dan menjalankan kebebasan bergerak sepenuhnya,” ujarnya.

Situasi Terkini di Lebanon
UNIFIL melaporkan bahwa dua pasukan penjaga perdamaian tewas pada Senin “ketika sebuah ledakan yang tidak diketahui asalnya menghancurkan kendaraan mereka” di dekat desa Bani Hayyan di Lebanon selatan. Kementerian Pertahanan Indonesia pada Selasa 31 Maret 2026 menyatakan bahwa dua tentaranya tewas dalam serangan pada Senin.

Pada Ahad, UNIFIL mengatakan satu pasukan penjaga perdamaian tewas dan satu lainnya terluka setelah sebuah proyektil menghantam posisi UNIFIL di dekat kota Adshit al-Qusayr di Lebanon selatan.

Kantor berita negara Lebanon, NNA, melaporkan bahwa penembakan artileri Israel menargetkan markas unit UNIFIL Indonesia di kota yang sama, tanpa memberikan detail lebih lanjut.

Kementerian Luar Negeri Indonesia kemudian mengonfirmasi bahwa pasukan penjaga perdamaian yang tewas pada Ahad adalah warga negara Indonesia. Dikatakan bahwa tiga pasukan penjaga perdamaian Indonesia lainnya dari UNIFIL juga terluka dalam serangan tersebut, yang digambarkan sebagai “tembakan artileri tidak langsung”.

Langkah yang Diperlukan
Serangan-serangan ini menunjukkan tingkat kekerasan yang meningkat di kawasan tersebut. Prancis menekankan pentingnya menjaga keamanan dan keselamatan pasukan PBB, serta memastikan bahwa setiap tindakan yang dilakukan tidak melanggar prinsip-prinsip internasional.

Selain itu, Prancis juga menyerukan transparansi dan investigasi menyeluruh terkait kejadian-kejadian tersebut. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pelaku tindakan kekerasan tidak lolos dari konsekuensi hukum.

Dengan situasi yang semakin memburuk, diperlukan koordinasi yang lebih baik antara pihak-pihak terkait, termasuk negara-negara yang bertanggung jawab atas pasukan penjaga perdamaian. Semua pihak harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan stabil di wilayah tersebut.

Kesimpulan
Peristiwa serangan terhadap pasukan PBB di Lebanon menunjukkan bahwa konflik di kawasan ini masih sangat rentan. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pihak tertentu dapat berdampak besar terhadap stabilitas dan keamanan regional. Oleh karena itu, penting bagi komunitas internasional untuk tetap waspada dan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah terulangnya kejadian serupa

Baca Lainnya

Dari Yordania hingga Oman: Iran Sapu Bersih Instalasi Militer AS di Teluk

14 Juli 2026 - 05:48 WIB

Sejarah Baru!!! Skuad Voli Putra Rebut Mahkota AVC Cup 2026, Korea Selatan Ditekuk Tanpa Ampun

28 Juni 2026 - 16:44 WIB

Resmi damai: Trump galang dana fantastis 300 miliar dolar AS pulihkan infrastruktur dan ekonomi Iran, Teheran stop produksi senjata nuklir

18 Juni 2026 - 12:47 WIB

Iran Ancam Bombardir Israel Jika Terus Langgar Kesepakatan di Lebanon

17 Juni 2026 - 10:30 WIB

Bank Sentral Indonesia & China Sepakati Teken Sejarah Tanpa Bergantung Dolar Amerika

12 Juni 2026 - 20:00 WIB

Trending di Dunia