Generasi Merdeka Hadir di Tengah Warga Cilegon,Erupsi Anak Gunung Krakatau Bagikan Masker dan Nasi Kotak, Hadir Jumat Berkah Musancab PKB Brebes: Meneguhkan Kemenangan Politik Tahun 2029 HIMASAL Brebes dalam Tarikan Nafas Khidmat Masyayekh Lirboyo Mengenal Prof Dr Suwendi Sang Pejuang Pendidikan Keagamaan di Nusantara. Buka Mubes PK NTT Batam, Amsakar Tekankan Keberagaman Harus Jadi Kekuatan Komisaris PT Pertamina Arun Gas (PAG) Dukung PKRM PRIMA DMI Langsa 2026. Wanda Assyura: remaja masjid harus diberi ruang untuk berkreasi.

Opini

HAORNAS 2026: DARI SEREMONI MENUJU SISTEM PEMBINAAN ATLET

badge-check


 HAORNAS 2026: DARI SEREMONI MENUJU SISTEM PEMBINAAN ATLET Perbesar

Oleh: Drs. Buralimar, M.Si.

Setiap 9 September kita kembali berdiri di podium yang sama. Lagu dikumandangkan, bendera dibentangkan, pidato disampaikan, dan berbagai kegiatan digelar untuk memperingati Hari Olahraga Nasional. Namun, Haornas tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi alarm kebangsaan, pengingat bahwa olahraga bukan sekadar pertandingan dan medali, melainkan bagian dari pembentukan manusia, karakter, kesehatan, prestasi, dan martabat bangsa. Karena itu, sudah waktunya Haornas tidak hanya dirayakan, tetapi dijadikan momentum untuk berbenah secara nyata.

Olahraga Indonesia memiliki banyak ruang, cabang, organisasi, dan talenta. Di dalamnya ada KORMI yang menggerakkan olahraga masyarakat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari; KONI yang berperan dalam pembinaan olahraga prestasi; serta KOI yang membawa perjuangan olahraga Indonesia menuju panggung Olimpiade dan dunia. Ketiganya memiliki fungsi berbeda, tetapi tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri atau saling meniadakan.

KORMI, KONI, dan KOI sesungguhnya adalah bagian dari satu tubuh besar olahraga Indonesia. Olahraga masyarakat membangun budaya kebugaran dan partisipasi, olahraga prestasi menemukan dan mengasah talenta, sementara jalur olimpik membuka jalan bagi atlet terbaik mengibarkan Merah Putih di panggung dunia. Garuda tidak akan terbang tinggi dengan satu sayap. Prestasi atlet dan budaya olahraga masyarakat harus tumbuh bersama.

Pembinaan juga tidak boleh berhenti di pusat atau tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Akar olahraga justru tumbuh di sekolah, klub, komunitas, desa, kelurahan, kecamatan, dan lapangan-lapangan sederhana. Di sanalah anak-anak pertama kali berlari, menendang bola, memukul raket, berenang, bertarung, atau mengenal disiplin latihan. Seorang juara dunia tidak muncul tiba-tiba di podium. Ia lahir dari proses panjang: ditemukan, dibimbing, diberi kesempatan bertanding, lalu dibina secara berkelanjutan dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga.

Karena itu, pemerintah, khususnya Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama pemerintah daerah, harus menjadi dirigen dalam orkestra besar keolahragaan nasional. Regulasi harus jelas, anggaran berkelanjutan, sarana-prasarana tersedia dan terawat, kompetisi berjenjang, pelatih mendapat perhatian dan peningkatan kompetensi, serta kesejahteraan dan masa depan atlet menjadi bagian penting dari kebijakan. Pemerintah tidak harus mengambil semua posisi, tetapi wajib memastikan semua pemain bergerak dalam irama yang sama.

Mengurus olahraga juga bukan sekadar mengelola jabatan, membuat kepengurusan, rapat, atau tampil dalam seremoni. Ia adalah seni mengelola manusia, membaca potensi, menyusun strategi, merawat hubungan, menyelesaikan perbedaan, dan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Seorang pengurus olahraga seharusnya menjadi nakhoda yang tenang ketika gelombang meninggi, bukan justru memperbesar gelombang karena ego dan kepentingan kelompok.

Penyakit merasa paling benar, paling berkuasa, atau paling berjasa harus perlahan ditinggalkan. Tidak ada organisasi olahraga yang dapat bekerja sendirian. KONI, KORMI, KOI, cabang olahraga, pemerintah, sekolah, klub, komunitas, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan masyarakat memiliki ruang masing-masing dalam ekosistem olahraga. Perbedaan kepentingan tidak boleh membuat atlet menjadi korban.

Atlet harus ditempatkan sebagai pusat dari seluruh kebijakan dan perjuangan olahraga. Jangan sampai energi organisasi habis untuk perebutan kewenangan, sementara atlet masih mencari tempat latihan, kompetisi tersendat, pelatih berjuang dengan keterbatasan, dan masa depan atlet belum memiliki kepastian. Masyarakat tidak terlalu membutuhkan pertunjukan konflik di ruang kepengurusan. Mereka ingin melihat atlet mendapat kesempatan terbaik untuk berlatih, bertanding, berkembang, berprestasi, dan memiliki kehidupan yang layak setelah masa keatletannya berakhir. Medali memang penting, tetapi manusia yang berada di balik medali jauh lebih penting.

Olahraga juga membutuhkan kritik dan partisipasi masyarakat. Suara penonton, pencinta olahraga, supporter, komunitas, bahkan mereka yang setia berada di tribun dalam hujan dan panas, jangan dianggap sebagai gangguan. Kritik yang membangun adalah cermin bagi pengurus dan pemerintah untuk melihat kekurangan yang mungkin luput dari ruang rapat. Stadion yang penuh sorak bukan sekadar tempat menyaksikan pertandingan; ia adalah ruang sosial tempat harapan rakyat bertemu dengan perjuangan atlet.

Haornas 2026 semestinya menjadi momentum untuk menyusun kembali arah olahraga Indonesia secara terukur dan berkelanjutan. Bangun sistem pendataan talenta sejak tingkat paling bawah. Pastikan kompetisi berjalan rutin dan berjenjang. Perkuat kualitas dan kesejahteraan pelatih. Integrasikan sport science, sport medicine, teknologi, pendidikan, dan pembinaan karakter. Bangun komunikasi yang sehat antara seluruh pemangku kepentingan, bukan untuk mempertahankan wilayah masing-masing, tetapi untuk mencari jalan terbaik bagi atlet dan masa depan olahraga Indonesia.

Pada akhirnya, olahraga adalah seni mengubah tubuh menjadi kekuatan, disiplin menjadi karakter, keringat menjadi prestasi, dan perjuangan menjadi sejarah. Haornas jangan hanya menjadi tanggal yang setiap tahun ditandai dengan upacara dan seremoni. Jadikan 9 September sebagai titik evaluasi sekaligus titik balik. Jika semua pemangku kepentingan bekerja serius, profesional, kolektif, dan kolaboratif, atlet tidak lagi tumbuh karena kebetulan, melainkan karena sistem yang menemukan, membina, melindungi, dan mengantarkan mereka menuju prestasi. Ketika Merah Putih berkibar di podium dunia, yang berdiri di sana bukan hanya seorang atlet, melainkan seluruh bangsa yang telah bekerja bersama di belakangnya.

Salam Olahraga!

Batam, 9/9/26
Penulis adalah
1. Ketua BWI Kota Batam
2. Wakil Ketua I ASPPI Kepri
3. Mantan Kadispar Kepri

Baca Lainnya

Musancab PKB Brebes: Meneguhkan Kemenangan Politik Tahun 2029

12 September 2026 - 10:06 WIB

HIMASAL Brebes dalam Tarikan Nafas Khidmat Masyayekh Lirboyo

12 September 2026 - 10:04 WIB

Mengenal Prof Dr Suwendi Sang Pejuang Pendidikan Keagamaan di Nusantara.

12 September 2026 - 10:03 WIB

MENGHITUNG ARTI, BUKAN KONEKSI: KETULUSAN YANG TERUJI DI KALA LAPANG DAN SEMPIT

11 September 2026 - 08:05 WIB

Ketika Agama Menjadi Cermin Kekuasaan: “Membaca Kontroversi Islam Ala Prabowo”

9 September 2026 - 12:55 WIB

Trending di Opini