Ocit Abdurrosyid Siddiq
Alumnus LK1 HMI Komisariat Fakultas Ushuluddin IAIN SGD Bandung
Entah kenapa, belakangan ini saya sering teringat pada sebuah fase kehidupan yang sudah cukup jauh jaraknya: tahun 1992, ketika saya mengikuti Latihan Kader 1 atau LK1 HMI. Waktu itu saya datang sebagai seorang mahasiswa yang sedang mencari banyak hal, termasuk pengetahuan, pergaulan, identitas, dan arah perjuangan. Saya belum berpikir tentang senioritas, jabatan, jaringan alumni, apalagi tentang bagaimana suatu hari junior akan datang menemui saya untuk meminta petunjuk. Saya hanya seorang anak muda yang sedang belajar memahami dunia, Islam, Indonesia, dan posisi diri sendiri di antara keduanya.
Tiga puluh lebih tahun kemudian, posisi itu perlahan berbalik. Saya yang dahulu datang kepada senior, kini sesekali didatangi junior. Mereka datang untuk meminta petunjuk, bimbingan, arahan, bahkan tidak jarang meminta bantuan anggaran untuk kegiatan. Saya memahami itu sebagai bagian dari siklus kaderisasi. Senior memang memiliki tanggung jawab moral untuk membantu junior sejauh kemampuan dan kepatutan memungkinkan. Tetapi pengalaman panjang membuat saya menyadari bahwa hubungan senior-junior seharusnya tidak dimulai dari transaksi bantuan, melainkan dari hubungan manusiawi yang dibangun melalui pengenalan, komunikasi, keteladanan, dan kepercayaan.
Karena itu, saya selalu membayangkan sebuah pertemuan pertama yang sederhana. Seorang junior datang, memperkenalkan diri sebagai kader HMI, menyebut komisariat atau cabangnya, menceritakan sedikit tentang dirinya, lalu menyampaikan apa yang sedang ia pelajari dan cita-cita apa yang sedang ia perjuangkan. Ia tidak perlu membawa cerita hebat. Cukup mengatakan bahwa ia ingin menjadi mahasiswa yang baik, ingin berprestasi, ingin belajar, dan ingin memperoleh arahan dari senior. Bagi saya, percakapan seperti itu jauh lebih menyenangkan daripada seseorang yang baru pertama kali bertemu tetapi langsung menyodorkan permohonan bantuan dana.
Bukan karena meminta bantuan itu salah. Kegiatan kaderisasi membutuhkan biaya, perjalanan ke luar daerah membutuhkan ongkos, forum diskusi membutuhkan anggaran, dan organisasi memang tidak mungkin bergerak tanpa dukungan material. Yang terasa kurang elok adalah ketika seorang senior pertama-tama diperkenalkan bukan sebagai manusia yang mungkin menjadi mentor, tetapi sebagai sumber pembiayaan kegiatan. Dalam hubungan seperti itu, senior mudah berubah menjadi ATM, sementara junior berubah menjadi pemegang proposal. Padahal kaderisasi mestinya membangun hubungan yang jauh lebih luhur daripada sekadar hubungan antara pemohon dan pemberi bantuan.
Mungkin saya sedang terlalu tua untuk zaman sekarang. Tetapi justru karena pernah menjadi junior, saya memiliki ingatan tentang bagaimana sebuah hubungan intelektual dahulu dibangun. Kami hidup pada zaman yang serba manual. Untuk mengetahui sesuatu, kami harus mencari. Untuk membaca buku, kami harus mendapatkannya. Untuk mengetahui perkembangan politik, kami membaca koran dan majalah. Untuk memperdalam pemikiran Islam dan keindonesiaan, kami mencari buku, mengikuti kajian, menghadiri diskusi, dan berbicara dengan orang yang lebih dahulu membaca. Pengetahuan tidak datang mengetuk pintu kamar. Kami harus keluar mencarinya.
Ada sesuatu yang menarik dari keterbatasan itu. Karena informasi tidak berlimpah, kami dipaksa untuk bersabar. Sebuah buku tidak bisa dibaca dalam hitungan detik. Sebuah gagasan tidak dapat dipahami hanya melalui judul atau kutipan pendek. Kalau ingin memahami pemikiran seseorang, kami harus membaca lebih banyak. Kalau argumentasi kami dipatahkan dalam diskusi, kami harus pulang dengan rasa penasaran, lalu mencari bacaan untuk mengetahui apakah lawan bicara kami benar. Dengan cara yang sederhana, keterbatasan teknologi justru memaksa kami mengalami apa yang sekarang sering disebut sebagai proses dialektika.
Forum-forum obrolan juga menjadi bagian penting dari kehidupan intelektual kami. Kadang diskusinya berlangsung serius, kadang dimulai dari persoalan sepele. Warung kopi, teras sekretariat, halaman kampus, atau tempat berkumpul lainnya bisa berubah menjadi ruang pertukaran gagasan. Pembicaraan tentang Islam dapat berbelok menjadi pembicaraan tentang nasionalisme. Pembicaraan tentang politik dapat berakhir pada filsafat. Kadang argumentasinya keras, tetapi setelah itu tetap makan dan minum bersama. Kami belajar bahwa berbeda pendapat tidak harus berarti bermusuhan.
Hari ini keadaan berubah secara drastis. Seorang kader dapat memperoleh informasi hampir tentang apa saja hanya melalui telepon genggam. Buku digital tersedia, jurnal dapat dicari, video kuliah dapat ditonton, tokoh intelektual dapat diikuti, dan berbagai perspektif dunia dapat ditemukan dalam hitungan detik. Ini jelas bukan kemunduran. Sebaliknya, teknologi digital merupakan salah satu revolusi terbesar dalam sejarah pengetahuan manusia. Generasi sekarang memiliki akses pengetahuan yang jauh lebih luas dibandingkan generasi kami. Persoalannya bukan lagi bagaimana mendapatkan informasi, melainkan bagaimana mengolah kelimpahan informasi itu menjadi pengetahuan.
Di sinilah saya mulai merasakan sesuatu yang mungkin saja merupakan pergeseran kadar intelektualitas, meskipun saya tidak ingin tergesa-gesa menyebutnya sebagai penurunan. Bisa jadi yang berubah bukan kemampuan berpikir manusia, melainkan ekosistem yang membentuk cara berpikir. Generasi kami ditempa oleh kelangkaan informasi, sedangkan generasi sekarang ditempa oleh kelimpahan informasi. Kami harus mencari apa yang ingin diketahui, sementara mereka harus memilih dari terlalu banyak hal yang datang sekaligus. Tantangan intelektualnya berbeda, meskipun kebutuhan dasarnya tetap sama: kemampuan berpikir kritis dan mendalam.
Masalahnya, informasi yang cepat diperoleh tidak selalu menghasilkan pemahaman yang mendalam. Seseorang dapat membaca banyak judul tanpa memahami satu gagasan secara utuh. Seseorang dapat mengutip banyak tokoh tanpa memahami argumentasi tokoh tersebut. Seseorang dapat mengetahui apa yang sedang viral tanpa memahami mengapa persoalan itu menjadi penting. Bahkan seseorang bisa merasa telah membaca banyak hal hanya karena setiap hari melewati ribuan potongan informasi di layar. Padahal membaca informasi dan memahami gagasan adalah dua aktivitas intelektual yang berbeda.
Media sosial menghadirkan persoalan lain. Dahulu dalam diskusi, kita berhadapan dengan manusia yang mungkin memiliki argumentasi berbeda. Kini algoritma sering kali justru menghadirkan informasi yang sesuai dengan kecenderungan kita. Kita merasa semua orang berpikir seperti kita karena linimasa kita dipenuhi orang yang berpikir seperti kita. Perbedaan kemudian terasa seperti gangguan. Kritik mudah dianggap serangan. Sanggahan dianggap permusuhan. Padahal tradisi intelektual justru tumbuh dari kemampuan menghadapi gagasan yang berbeda tanpa kehilangan kemampuan menghormati manusianya.
Dalam konteks itulah saya teringat pada pertanyaan yang muncul dalam video yang saya lihat: “Masih Perlukah Kongres HMI?” Saya tidak tahu siapa pembicaranya dan tidak ingin tergesa-gesa menafsirkan maksudnya. Tetapi pertanyaan itu menarik karena mungkin bukan kongresnya yang sedang dipersoalkan. Bisa jadi yang sedang dipertanyakan adalah makna kongres bagi perjalanan HMI. Apakah kongres masih menjadi ruang untuk merumuskan gagasan, memperdebatkan masa depan organisasi, dan menguji kualitas kader, atau perlahan lebih banyak menjadi arena untuk menentukan siapa mendapatkan posisi apa dan melalui cara bagaimana?
Pertanyaan itu menjadi semakin menarik jika kita hubungkan dengan pengalaman panjang HMI sebagai organisasi kader. Saya melihat HMI sangat berhasil dalam satu hal: melahirkan pewaris organisatoris. Kader-kadernya tersebar ke berbagai ruang kehidupan bangsa. Mereka hadir di pemerintahan, parlemen, partai politik, birokrasi, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga negara, media, dan berbagai ruang strategis lainnya. Dari sudut pandang reproduksi organisasi dan jaringan, ini merupakan keberhasilan yang tidak kecil. HMI telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mempertahankan eksistensi dan memperluas jejaring alumninya.
Tetapi keberhasilan organisatoris itu justru melahirkan pertanyaan yang lebih sulit. Apakah keberhasilan menjadi pewaris organisatoris berjalan seiring dengan keberhasilan menjadi pewaris ideologis? Saya pernah merumuskan kegelisahan itu dalam sebuah kalimat: HMI berhasil menjadi pewaris organisatoris, tetapi gagal menjadi pewaris ideologis. Kalimat tersebut tentu bukan vonis akademik dan tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasi seluruh kader HMI. Ia lebih merupakan kegelisahan seorang kader lama yang melihat adanya jarak antara keberhasilan kader menduduki banyak posisi dan kemampuan membawa nilai-nilai perjuangan HMI ke dalam posisi tersebut.
Di sinilah NDP menjadi penting. Nilai Dasar Perjuangan semestinya tidak berhenti sebagai dokumen yang dibaca dalam perkaderan, materi yang diperdebatkan ketika ujian, atau teks yang dihafalkan untuk menunjukkan bahwa seseorang memahami HMI. NDP seharusnya menjadi cara berpikir dan cara bersikap. Nilai keislaman, kemanusiaan, keterbukaan, toleransi, kebebasan berpikir, keindonesiaan, dan penghargaan terhadap martabat manusia semestinya ikut hadir ketika seorang kader memasuki ruang kekuasaan. Kalau nilai itu hanya hidup di ruang kaderisasi tetapi mati ketika kader masuk ke ruang kekuasaan, maka ada sesuatu yang perlu kita pertanyakan.
Pada titik inilah, jangan-jangan celoteh Gus Dur dan Cak Imin pada waktu dan tempat berbeda memiliki sesuatu yang patut direnungkan. Gus Dur pernah berguyon bahwa untuk mewujudkan tujuan, HMI melakukan berbagai cara, sementara PMII caranya saja tidak tahu. Cak Imin pada kesempatan lain pernah berseloroh bahwa yang tidak tumbuh dari bawah adalah HMI. Saya tidak menganggap dua kalimat itu sebagai teori ilmiah tentang HMI. Itu adalah sentilan, bahkan mungkin humor politik. Tetapi justru karena ia sederhana dan jenaka, sentilan tersebut bisa menjadi cermin yang kadang lebih mengganggu daripada kritik akademik.
Kader HMI tidak perlu marah mendengarnya. Kalau sebuah organisasi intelektual tidak mampu menerima sentilan, bagaimana mungkin ia mampu menerima kritik? Jangan-jangan kita terlalu sibuk mencari siapa yang mengucapkan kalimat tersebut, lalu lupa bertanya apakah ada bagian dari kalimat itu yang layak menjadi bahan muhasabah. Organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah dikritik. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu mengubah kritik menjadi energi untuk memperbaiki diri. Cermin tidak perlu dimarahi hanya karena memperlihatkan wajah yang sedang kusut. Yang perlu dilakukan adalah mencuci wajah.
Mungkin di sinilah persoalan intelektualitas kader bertemu dengan persoalan kaderisasi. Intelektualitas bukan sekadar banyak membaca, sebagaimana kaderisasi bukan sekadar banyak mengikuti pelatihan. Intelektualitas adalah kemampuan mengolah bacaan menjadi pemikiran. Kaderisasi adalah kemampuan mengubah pemikiran menjadi karakter. Dan karakter kemudian diuji ketika seseorang memperoleh kesempatan memasuki ruang kehidupan yang lebih luas. Kalau setelah menjadi pejabat, pengusaha, akademisi, politisi, birokrat, atau tokoh masyarakat seorang kader kehilangan keberanian untuk mempertahankan nilai yang dahulu dipelajarinya, maka pertanyaan tentang keberhasilan kaderisasi menjadi sah untuk diajukan.
Karena itu, saya tidak ingin menyalahkan generasi sekarang hanya karena mereka lebih sering menggunakan gadget daripada membaca koran dan majalah. Dunia memang berubah. Teknologi tidak mungkin kita lawan. Yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa teknologi menjadi alat untuk memperdalam intelektualitas, bukan alat untuk menggantikannya. Generasi sekarang tidak harus hidup seperti generasi kami. Mereka tidak perlu mencari koran bekas atau berburu buku langka hanya untuk membuktikan bahwa mereka intelektual. Tetapi mereka perlu memiliki kesabaran untuk membaca panjang, berdiskusi, menguji argumentasi, memeriksa sumber, dan sesekali berani berkata: “Saya mungkin keliru.”
Mungkin kalimat terakhir itulah yang paling penting dalam tradisi intelektual. Orang yang selalu merasa benar akan sulit belajar. Orang yang selalu merasa paling tahu akan berhenti mencari. Dan orang yang menganggap kritik sebagai penghinaan akan kehilangan kesempatan untuk tumbuh. HMI tidak membutuhkan kader yang hanya pandai memenangkan perdebatan. HMI membutuhkan kader yang mampu berdialog dengan perbedaan, mengakui kesalahan, mempertahankan kebenaran dengan argumentasi, dan menggunakan pengetahuan untuk kepentingan manusia. Sebab kecerdasan tanpa kerendahan hati mudah berubah menjadi kesombongan intelektual.
Demikian pula hubungan senior dan junior seharusnya tidak berhenti pada persoalan siapa memberi dan siapa menerima. Junior tidak datang kepada senior semata-mata untuk meminta uang, sebagaimana senior tidak membantu junior untuk menciptakan ketergantungan. Hubungan itu seharusnya menjadi hubungan pedagogis. Junior datang membawa semangat dan keinginan belajar. Senior memberikan pengalaman dan arah. Junior menunjukkan ikhtiar. Senior memberikan dukungan. Junior kelak tumbuh dan menjadi senior. Lalu siklus tersebut diteruskan kepada generasi berikutnya. Yang diwariskan bukan sekadar jaringan, tetapi adab dalam membangun jaringan.
Kalau demikian, barangkali persoalan terbesar HMI hari ini bukan apakah kongres masih diperlukan atau tidak. Kongres tetap dapat diperlukan sebagai mekanisme organisasi. Persoalan yang lebih mendasar adalah untuk apa kongres itu diselenggarakan dan manusia seperti apa yang hendak dilahirkannya. Kalau kongres hanya menjadi ritual pergantian kekuasaan, ia kehilangan sebagian maknanya. Tetapi kalau kongres menjadi ruang untuk menguji gagasan, mempertemukan perbedaan, merumuskan masa depan, dan memastikan regenerasi kader yang memiliki integritas intelektual, maka kongres masih memiliki alasan yang kuat untuk dipertahankan.
Saya sampai pada satu kesimpulan yang mungkin sederhana. HMI tidak kekurangan kader. HMI juga tidak kekurangan alumni yang menduduki posisi penting. HMI tidak kekurangan jaringan, forum, konferensi, kongres, seminar, dan berbagai kegiatan organisatoris. Yang perlu terus-menerus dipastikan adalah apakah semua keberhasilan itu masih memiliki hubungan dengan alasan mengapa HMI dahulu didirikan. Jangan sampai kita berhasil mewariskan organisasinya tetapi kehilangan gagasannya. Jangan sampai kita mewariskan jaringan tetapi kehilangan nilai. Jangan sampai kita mewariskan jabatan tetapi lupa mewariskan tanggung jawab.
Saya yang mengikuti LK1 pada 1992 tentu tidak boleh merasa bahwa generasi saya adalah generasi paling intelektual. Kami memiliki kelemahan sendiri. Generasi kami juga pernah melakukan kesalahan, berdebat secara berlebihan, terjebak romantisme organisasi, dan mungkin terlalu percaya bahwa cara kami adalah cara terbaik. Generasi sekarang memiliki tantangan berbeda. Mereka hidup dalam dunia yang jauh lebih cepat, lebih terbuka, sekaligus lebih bising. Karena itu, tugas senior bukan menghakimi mereka dengan nostalgia, tetapi membantu mereka menemukan kedalaman di tengah kelimpahan informasi.
Mungkin inilah makna senioritas yang sesungguhnya. Bukan semakin tua lalu semakin berhak memberi perintah. Bukan semakin lama menjadi kader lalu semakin layak dihormati tanpa alasan. Senioritas adalah kesediaan mengambil tanggung jawab moral terhadap generasi yang datang kemudian. Jika junior membutuhkan arahan, berikan arah. Jika membutuhkan pengetahuan, bagikan pengalaman. Jika membutuhkan dukungan, bantu sejauh mampu. Tetapi ajarkan pula kepada mereka bahwa bantuan bukan hak otomatis dan senior bukan mesin penyedia anggaran. Sebelum meminta sesuatu, belajarlah memperkenalkan diri, membangun komunikasi, menunjukkan ikhtiar, dan memperlihatkan bahwa bantuan itu akan menjadi energi bagi pertumbuhan.
Kita memang perlu kembali kepada pertanyaan yang lebih sederhana: apa yang ingin kita wariskan? Apakah hanya nama HMI, struktur organisasi, jaringan alumni, posisi politik, dan daftar panjang orang yang pernah menjadi ketua? Ataukah kita ingin mewariskan keberanian berpikir, keluasan wawasan, kedalaman keislaman, kecintaan kepada Indonesia, penghormatan terhadap kemanusiaan, kesediaan berdialog, dan kerendahan hati untuk menerima kritik? Kalau pilihan kedua yang kita inginkan, maka pekerjaan rumahnya jauh lebih besar daripada sekadar menyelenggarakan kongres.
Warisan ideologis tidak berpindah melalui dokumen. Ia berpindah melalui manusia. NDP tidak menjadi hidup karena dicetak menjadi buku, tetapi karena nilai-nilainya menjelma menjadi perilaku kader. Tradisi intelektual tidak hidup karena seminar semakin banyak, tetapi karena kader masih mau membaca, bertanya, berdiskusi, berbeda pendapat, dan menguji pikirannya sendiri. Kaderisasi tidak berhasil karena jumlah peserta semakin banyak, tetapi karena manusia yang keluar dari proses itu menjadi lebih matang, lebih berilmu, lebih toleran, lebih kritis, dan lebih bertanggung jawab.
Maka saya tidak sedang mengajak HMI kembali ke masa lalu. Saya hanya mengajak kita menengok sebentar ke belakang agar perjalanan ke depan tidak kehilangan kompas. Buku dan layar bukan dua musuh. Kongres dan kaderisasi bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Senior dan junior bukan dua kelompok yang saling memanfaatkan. Teknologi bukan penyebab kebodohan, sebagaimana buku bukan jaminan kecerdasan. Yang menentukan semuanya adalah bagaimana manusia menggunakan fasilitas, kesempatan, kekuasaan, dan pengetahuannya. Zaman boleh berubah, teknologi boleh berganti, tetapi kebutuhan manusia terhadap kebenaran, kebijaksanaan, dan kemanusiaan tidak pernah berubah.
Saya kira inilah saatnya HMI kembali bertanya kepada dirinya sendiri dengan kepala dingin. Bukan dengan kemarahan terhadap kritik. Bukan dengan kebanggaan atas banyaknya kader yang menduduki jabatan. Bukan pula dengan romantisme bahwa masa lalu selalu lebih baik daripada masa kini. Pertanyaannya jauh lebih sederhana tetapi sekaligus lebih sulit: apakah kader-kader HMI hari ini masih membawa nilai-nilai yang dahulu membuat kita percaya bahwa organisasi ini layak diperjuangkan? Jika jawabannya belum sepenuhnya, tidak ada alasan untuk berkecil hati. Justru di situlah pekerjaan kaderisasi harus dimulai kembali.
Setelah lebih dari tiga puluh tahun sejak saya mengikuti LK1, saya akhirnya memahami bahwa menjadi senior bukan berarti sudah selesai belajar. Justru senioritas mestinya membuat seseorang semakin rendah hati karena ia telah melihat terlalu banyak perubahan untuk percaya bahwa dirinya selalu benar. Kepada junior, saya ingin mengatakan: datanglah, mari berkenalan. Ceritakan siapa dirimu, apa yang sedang kau pikirkan, apa yang ingin kau perjuangkan, dan manusia seperti apa yang ingin kau menjadi. Jangan buru-buru meminta bantuan. Tumbuhkan dulu kepercayaan. Sebab kalau suatu hari nanti engkau benar-benar menunjukkan kesungguhan, boleh jadi sebelum engkau meminta, senior sudah lebih dahulu berpikir bagaimana membantumu.
Kepada diri saya sendiri sebagai senior, saya juga perlu mengingatkan: jangan terlalu mudah mengeluh tentang junior. Mereka hidup pada zaman yang berbeda. Mereka menghadapi persoalan yang berbeda. Mereka memiliki alat yang berbeda. Tugas kita bukan memaksa mereka menjadi seperti kita, tetapi membantu mereka menemukan kualitas terbaik mereka sendiri. Kalau dulu kami ditempa oleh buku, koran, majalah, diskusi panjang, dan keterbatasan informasi, biarlah mereka ditempa oleh teknologi dengan kedalaman yang sama. Yang penting bukan apakah mereka membaca dari kertas atau layar. Yang penting adalah apakah setelah membaca, mereka menjadi manusia yang lebih mampu berpikir.
Pada titik itu, mungkin pertanyaan “Masih Perlukah Kongres HMI?” menemukan jawaban yang lebih manusiawi. Kongres masih diperlukan selama ia menjadi sarana untuk merawat cita-cita, bukan sekadar perebutan posisi. HMI masih diperlukan selama ia mampu melahirkan manusia yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar tiket menuju kekuasaan. Dan kaderisasi masih diperlukan selama kita percaya bahwa manusia dapat terus dibentuk menjadi lebih baik. Karena sesungguhnya yang harus kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan sekadar sebuah organisasi yang masih hidup, tetapi sebuah nilai yang tetap bernyawa di dalam manusia-manusianya.
Ketika generasi kami benar-benar menjadi masa lalu, tidak banyak orang yang mengingat siapa kami, siapa yang pernah menjadi ketua, siapa yang pernah duduk di jabatan tertentu, atau siapa yang pernah memenangkan sebuah kontestasi organisasi. Yang mungkin tersisa hanyalah jejak kecil dalam kehidupan orang lain: seorang senior pernah memberikan nasihat, seorang guru pernah membuka buku, seorang kawan pernah mengajak berdiskusi, seseorang pernah membantu tanpa membuat dirinya merasa lebih tinggi. Jika itulah yang tersisa, saya kira perjalanan sebagai kader HMI tidak sia-sia.
Warisan terbesar sebuah organisasi bukanlah panjangnya sejarah, banyaknya alumni, luasnya jaringan, atau megahnya kongres. Warisan terbesar adalah manusia yang pernah disentuhnya lalu menjadi lebih baik. Kalau HMI mampu melakukan itu, ia tidak perlu takut terhadap perubahan zaman. Ia tidak perlu takut terhadap gadget, media sosial, algoritma, atau generasi baru. Karena organisasi yang benar-benar memiliki gagasan tidak akan mati hanya karena medianya berubah. Ia akan terus hidup selama masih ada manusia yang membaca, berpikir, berdialog, berbeda dengan santun, menerima kritik dengan lapang, dan menjadikan pengetahuan sebagai jalan menuju pengabdian.
Maka saya ingin menutup catatan ini bukan dengan vonis bahwa generasi sekarang lebih rendah daripada generasi kami. Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa HMI telah gagal secara keseluruhan. Saya hanya ingin menitipkan sebuah pertanyaan kepada diri sendiri dan kepada siapa pun yang masih merasa menjadi bagian dari keluarga besar HMI: jangan-jangan kita terlalu berhasil mewariskan organisasi, tetapi belum cukup berhasil mewariskan nilai. Jangan-jangan kita terlalu sibuk mencari posisi, sementara lupa memperjuangkan makna. Dan jangan-jangan, di antara buku yang dulu kami baca dan layar yang kini mereka genggam, yang paling perlu kita selamatkan bukan medianya, melainkan kedalaman berpikir dan kemanusiaan yang hendak diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Wallahualam.*
Pasirgintung Jayanti Tangerang
Senin, 14 September 2026























