Wamendagri Bima Arya: Karakter dan Kecerdasan Intelektual Harus Berjalan Beriringan Bupati Sumedang Buka Musdis XI AMS, Tekankan Lima Strategi Penguatan Organisasi Bersama Polresta Barelang dan PSSI, Amsakar Berbagi 1.000 Paket Beras Kapal Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, Data Sementara 107 Orang Dievakuasi dan 6 Meninggal Dorong Generasi Antikorupsi, Penyuluh Antikorupsi Ajak Mahasiswa Hukum Perkuat Integritas 24 Masjid Tangsel Ikuti Bimtek Manajemen Masjid Modern di Masjid Raya Bintaro Jaya

Jabar

“Label Kota Bersih Banjar?? Tapi Hanyalah Lipstik di Atas Sampah Moral”

badge-check


 “Label Kota Bersih Banjar?? Tapi Hanyalah Lipstik di Atas Sampah Moral” Perbesar

AskaraNews.com,Banjar-Predikat “Kota Bersih” yang selama ini disandang Kota Banjar mendapat tamparan keras dari kalangan aktivis. Sandi Mardiana Putra, aktivis Muda Banjar setempat, melontarkan kritik pedas terkait temuan memprihatinkan di sejumlah aset publik, mulai dari kawasan Banjar Water Park (BWP) hingga Situ Leutik.

Sandi menilai, penghargaan kebersihan yang dibanggakan pemerintah daerah saat ini kontras dengan realita di lapangan. Menurutnya, citra tersebut hanyalah sebuah formalitas administratif yang menutupi degradasi moral di ruang publik.

Ironi di Balik Piala Penghargaan
Temuan sampah berupa alat kontrasepsi (kondom) dan botol minuman keras (miras) di area wisata BWP dan Situ Leutik menjadi pemantik kritik tersebut. Sandi menegaskan bahwa fenomena ini adalah bukti nyata lemahnya pengawasan aset daerah.

“Sangat ironis. Di satu sisi kita memajang piala kota bersih, tapi di sisi lain, kawasan BWP dan Situ Leutik dibiarkan menjadi ‘monumen’ kegagalan pemeliharaan aset. Sampah kondom dan botol miras itu tanda adanya pembiaran terhadap aktivitas negatif,” tegas Sandi.

Soroti “Kebersihan Semu” dan Pengawasan Mandul
Dalam pernyatannya, Sandi menggarisbawahi tiga poin krusial yang harus segera dievaluasi oleh Pemerintah Kota Banjar:
1. Kebersihan Semu: Kebersihan jangan hanya dipoles di jalan protokol untuk penilaian, sementara aset strategis dibiarkan menjadi “sampah moral”.
2. Pengawasan Mandul: Minimnya penerangan dan absennya patroli rutin membuat ruang publik beralih fungsi menjadi tempat maksiat.
3. Dampak Psikologis: Sebagai bagian dari Gerakan Pemuda Banjar I, Sandi mengkhawatirkan rusaknya mentalitas generasi muda jika area wisata justru menjadi lokasi bebas berbuat negatif tanpa pengawasan.

Desakan Tindakan Nyata
Sandi Mardiana Putra mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret. Ia menuntut perbaikan fasilitas penerangan, pengetatan penjagaan di area rawan, serta memfungsikan kembali aset daerah agar tidak terbengkalai.

“Jangan biarkan label Kota Bersih ini berubah menjadi slogan kosong yang memalukan warga Banjar. Kebersihan sejati sebuah kota tercermin dari kebersihan lingkungan dan kesucian moralitas masyarakatnya,” tutupnya.

Baca Lainnya

Wamendagri Bima Arya: Karakter dan Kecerdasan Intelektual Harus Berjalan Beriringan

13 September 2026 - 18:24 WIB

Bupati Sumedang Buka Musdis XI AMS, Tekankan Lima Strategi Penguatan Organisasi

13 September 2026 - 17:42 WIB

Dorong Generasi Antikorupsi, Penyuluh Antikorupsi Ajak Mahasiswa Hukum Perkuat Integritas

13 September 2026 - 10:55 WIB

24 Masjid Tangsel Ikuti Bimtek Manajemen Masjid Modern di Masjid Raya Bintaro Jaya

13 September 2026 - 10:50 WIB

Kawal Pentas Remaja Masjid 2026, Farih Mumtaza Desak Elemen Negeri di Langsa Bersatu!

13 September 2026 - 09:50 WIB

Trending di Aceh